Tribun

Budiman Sudjatmiko: Semangat Ekonomi Konstitusi Itu Cooperative Nation

Menurut Budiman Sudjatmiko, Ketua Pelaksana Bukit Algoritma, semangat ekonomi konstitusi itu sebetulnya cooperative nation.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Budiman Sudjatmiko: Semangat Ekonomi Konstitusi Itu Cooperative Nation
Istimewa
Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konstitusi Indonesia sejak awal telah menekankan pentingnya sistem perekonomian terencana terutama dalam aspek pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Dalam konteks ini, negara diharapkan memiliki peran besar dalam menguasai sumber-sumber ekonomi strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Menurut Budiman Sudjatmiko, Ketua Pelaksana Bukit Algoritma, semangat ekonomi konstitusi itu sebetulnya cooperative nation.

Dalam konsep ini, keberadaan koperasi misalnya bukanlah suatu kejadulan.

Demikian disampaikan Budiman dalam Bedah Buku ”Globalisasi, Ekonomi Konstitusi dan Nobel Ekonomi” karya Prof. Dr. Hendrawan Supratikno, MBA, Anggota Komisi XI DPR RI. 

Bedah Buku tersebut diselenggarakan secara daring oleh Yayasan Setia Perjuangan Pantura, Senin (7/6/2021).

Baca juga: Budiman Sudjatmiko: Alokasikan Anggaran Rp 200 T Untuk Menyelamatkan Generasi Muda Terlalu Murah

Menurut Budiman, ada 300 an koperasi terbaik dunia yang mungkin kita kenal seperti Sumitomo Life, Rabobank, Fonterra, dan lain-lain.

Dalam semangat cooperative nation, koperasi bisa dibentuk di berbagai sektor seperti yang ada saat ini misalnya Koperasi Satelit Desa Indonesia (KSDI) yang fokus di segmen device, network, dan application.

Juga ada Koperasi Industri Kreatif Indonesia (KIKI) yang bergerak di bidang audiovisual, socio culture, interaction; Koperasi Energi Nusantara Desa Indonesia (KENDI) yang bergerak di bidang generator, storage, dan distribution, dan koperasi-koperasi lainnya.

Budiman yang juga Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia mengingatkan terkait tantangan peradaban saat ini di mana teknologi bisa memberikan dampak terhadap sektor bisnis dan masyarakat.

Sementara itu, Prof. Dr. Hendrawan Supratikno, MBA dalam paparannya menyatakan bahwa keterbelakangan sosial, ekonomi dan budaya terjadi karena lembaga-lembaga publik telah bermetamorfosa menjadi lembaga ekstraktif-parasitik.

Oleh karenanya, ia mengingatkan bahwa kontrol terhadap keserakahan manusia juga menentukan tingkat peradaban dan efisiensi ekonomi.

Menurut Anggota DPR tersebut, great vision without great people is irrelevant.

Bedah Buku yang diikuti ratusan peserta dari seluruh tanah air tersebut juga dihadiri oleh narasumber lain yaitu Dr. Ir. Arif Budimanta, M.Sc, Staf Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi. 

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas