Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Di Balik Konsep Bung Karno pada Gagasan Partai Tunggal: Milenial Jangan Takut Bicara Parpol

“Partai adalah kekuatan masyarakat sipil untuk menjaga kekuasaan. Kalau tidak ada partai, maka jatuhnya pasti ke kekuatan militer,” pungkasnya.

Di Balik Konsep Bung Karno pada Gagasan Partai Tunggal: Milenial Jangan Takut Bicara Parpol
YouTube/PDI Perjuangan
Patung Bung Karno di depan kantor Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Jakarta, Kamis (20/5/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai merupakan alat organisasi untuk meraih tujuan. Tujuan dalam hal ini artinya kekuasaan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.

Dibandingkan jenis organisasi lain yang bermunculan di era perjuangan merebut maupun di awal kemerdekaan, partai memiliki semangat lebih konkret dalam meraih tujuannya.

Pemaparan itu disampaikan Retor Aquinaldo Wirabuanaputera Kaligis pada ‘Talkshow & Musik Bung Karno Series’ Episode 12, Sabtu, 12 Juni 2021 dipandu aktivis nasionalis muda Aris Setiawan Yodi.

Doktor sosiologi Universitas Indonesia ini menjelaskan dasar di balik konsep kepartaian Bung Karno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan semangat nasionalis yang progresif radikal .

Retor menerangkan, dasar kepartaian yang dipilih Bung Karno juga disesuaikan dengan konteks permasalahan bangsa saat itu yakni kemerdekaan berdaulat bangsa sekaligus membebaskan rakyat kecil (kaum marhaen) yang tertindas agar terbebas dari penghisaban dan penjajahan bangsa asing.

Baca juga: Terjebak Kudeta, 200 Pengawal Bung Karno Sebulan Jadi Tahanan di Aljazair

“Konsep kepartaian Bung Karno saat itu sesuai dengan konteks permasalahan yang ada, yakni kemerdekaan bangsa sekaligus terbebas dari penindasan bangsa lain atau bangsa sendiri,” ungkap pria yang sehari-hari menjadi dosen sosiologi Universitas Pancasila ini.

Retor melanjutkan, konsep Bung Karno tentang ‘staatpartij’ atau partai tunggal lebih ke arah mempersatukan bangsa, disesuaikan dengan konteks pada saat itu juga untuk memperjuangkan kemerdekaan dan membebaskan diri dari genggaman penjajahan.

“Bukan berbicara politik untuk kelompoknya atau ideologi, tetapi lebih mengarah pada pembahasan semangat bahu-membahu untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Konsep PNI sebagai ‘staatpartij’ bukan berarti membawa pemerintahan ke arah otoriter, tetapi kembali disesuaikan permasalahan bangsa saat itu, yakni ketegasan Bung Karno dalam mengatasi pemberontakan di beberapa daerah.

Baca juga: Bung Karno dan Visi Besar Pendidikan Indonesia: Menjadi Manusia Seutuhnya

“Konsep staatpartij’ Bung Karno untuk mempersatukan pandangan, menghilangkan perdebatan politik atau ideologi, dan juga bukan berarti ke arah otoriter. Gagasan itu lebih disesuaikan dengan konteks saat itu,” lanjut penulis buku ‘Marhaen dan Wong Cilik’ ini.

Yang perlu pahami oleh pemuda bahwa partai merupakan kekuatan dari masyarakat sipil. Bagian dari masyarakat untuk memperjuangkan hak daripada masyarakat agar tetap adil dan sejahtera.

“Karena itu, anak muda generasi milenial jangan takut dan alergi berbicara tentang partai. Bung Karno pun terbuka dengan adanya Dekrit Presiden untuk meredam perdebatan pandangan idelogi kepartaian,” kata pria yang juga menjabat Ketua Penelitian dan Penerbitan Institut Marhaen.

“Partai adalah kekuatan masyarakat sipil untuk menjaga kekuasaan. Kalau tidak ada partai, maka jatuhnya pasti ke kekuatan militer,” pungkas Retor AW Kaligis.

Penulis: Hendra Gunawan
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas