Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Ketua Komisi X DPR: Minat Mahasiswa Jadi Tantangan Program Kampus Merdeka

Dalam lima tahun terakhir telah terjadi disrupsi digital maupun disrupsi akibat pandemi yang mengubah banyak hal.

Ketua Komisi X DPR: Minat Mahasiswa Jadi Tantangan Program Kampus Merdeka
dok. DPR RI
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Minat calon mahasiswa baru di Indonesia masih tergolong konvesional.

Program Kampus Merdeka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus mampu memunculkan minat calon mahasiswa maupun penyelenggara pendidikan tinggi terhadap program studi baru yang tanggap terhadap dunia industri.

“Kami berharap Program Kampus Merdeka mampu mengubah cara pandang penyelenggara pendidikan tinggi agar tanggap terhadap tantangan baru dunia industri sehingga menyediakan program studi baru yang sesuai landscape dunia kerja saat ini,” ujar Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, Sabtu (19/6/2021).

Dia menjelaskan berdasarkan data dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPTN) dari hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 diketahui jika minat mayoritas calon mahasiswa baru belum berubah dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Nadiem Ungkap Pertanyaan Jokowi Soal Prodi Kampus yang Belum Alami Perubahan

Di kelompok sains dan teknologi masih didominasi kedokteran serta Teknik. Sedangkan di kelompok sosial dan humainora didominasi ilmu ekonomi serta hukum.

“Calon mahasiswa baru masih berlomba memilik prodi tradisional seperti kedokteran, teknologi informasi, teknik mesin di kelompok sains maupun manajemen, akuntansi, hukum, dan hubungan internasional di kelompok sosial humainora,” katanya.

Fakta ini, lanjut Huda memberi arti jika saat ini pola pikir calon mahasiswa baru maupun penyelenggara Pendidikan tinggi masih belum banyak berubah.

Calon mahasiswa baru masih berpikir aman untuk memilih prodi-prodi konvensional karena hal itu bisa menjamin mereka untuk bekerja di lembaga-lembaga pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan mapan.

“Di sisi lain penyelenggara Pendidikan tinggi tidak mau rugi jika harus membuat prodi baru yang sepi peminat,” katanya.

Sedangkan realitasnya, kata Huda wajah dunia kerja telah banyak mengalami perubahan.

Dalam lima tahun terakhir telah terjadi disrupsi digital maupun disrupsi akibat pandemi yang mengubah banyak hal.

Banyak tumbuh lapangan kerja baru yang mengeser pola-pola kerja lama.

“Pemerintah maupun penyelenggara Pendidikan tinggi harus mampu menangkap fenomena ini sehingga kita tidak lagi jauh ketinggalan dengan negara-negara lain,” katanya.

Politikus PKB ini berharap Progam Merdeka Belajar yang diideasikan mampu menciptakan pola pikir inovatif, independen, dan humanis dari mahasiswa harus benar-benar menangkap perubahan zaman.

Program ini harus bisa membuat penyelenggara Pendidikan tinggi mengubah manajemen pengelolaan dengan menyediakan berbagai prodi baru yang sesuai dengan tuntutan dunia industry dewasa ini.

“Program ini juga harus bisa mengubah wawasan calon mahasiswa jika ada banyak bidang studi baru maupun lapangan kerja baru yang membutuhkan keberanian mereka untuk mengelutinya. Tentu ini juga harus dibarengi dengan perubahan kurikulum Pendidikan tinggi agar sesuai dengan tuntutan zaman dewasa ini,” pungkasnya.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas