Tribun

Ketua Majelis Syura PKS: Pemimpin Harus Bersifat Jujur Agar Dipercaya Masyarakat

Seorang pemimpin yang tidak jujur dalam mengemban jabatannya tidak akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Dewi Agustina
Ketua Majelis Syura PKS: Pemimpin Harus Bersifat Jujur Agar Dipercaya Masyarakat
Tribunnews.com/ Amriyono
Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al Jufri mengatakan para pemimpin bangsa harus meneladani sifat kejujuran yang ditanamkan dari Nabi Ibrahim AS.

Ia menuturkan Nabi Ibrahim AS berbicara jujur kepada anaknya Nabi Ismail AS ketika mendapat perintah menyembelih dari Allah SWT.

Peristiwa tersebut kini bagi umat Islam diperingati sebagai hari raya Idul Adha.

Dalam kebangsaan, kata dia, seorang pemimpin yang tidak jujur dalam mengemban jabatannya tidak akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

"Kalau seorang pemimpin jujur, tidak pernah berbohong, apapun posisi pemimpin tersebut dimanapun mereka berada dan jabatan apapun yang mereka diamanahkan, kalau mereka jujur dan apa adanya saya yakin anak bangsa akan bangkit bersama sama karena terwujud namanya trust atau kepercayaan," kata Salim dalam tayangan virtual pesan kebangsaan "Kurban, Pandemi dan Kepahlawanan Sosial", Minggu (18/7/2021).

Baca juga: Aturan Takbiran dan Sholat Idul Adha 2021 saat PPKM Darurat, Ini Anjuran Menag

Menurutnya, sifat kejujuran para pimpinan bangsa akan memunculkan kepercayaan dari masyarakat. Sebaliknya, pemimpin yang dipercaya masyarakat bisa memobilisasi masyarakat untuk bergandengan tangan agar membangun bangsa.

"Ini tanah air kita bersama, kalau bahagia kita bahagia bersama, kalau susah kita susah bersama dan kalau itu terjadi tidak ada masalah tidak bisa terselesaikan," jelasnya.

Lebih lanjut, Salim menambahkan peristiwa yang bisa dipelajari dalam kisah Nabi Ibrahim AS yaitu menahan diri dari hawa nafsu yang mementingkan diri sendiri.

"Yang kedua adalah dijauhkan yang namanya syahwat kekuasaan, syahwat kekuasaan dalam arti hanya untuk mementingkan diri kelompok dan partainya saja. Kalau ini terjadi kita tidak akan meraih kejayaan, kita tidak akan meraih dan mewujudkan apa-apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa," ujarnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas