Tribun

Virus Corona

Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Jawaban Kepala BIN

Oleh karena itu pihaknya meminta masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Editor: Hasanudin Aco
Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Jawaban Kepala BIN
Istimewa
Kepala BIN Budi Gunawan menyambangi rumah warga di Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (18/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Purn Budi Gunawan menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 masih bakal berlangsung cukup lama.

Hal tersebut, kata Budi, berdasarkan hasil prediksi medical inteligence.

Oleh karena itu pihaknya meminta masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Kita harus tahu dari prediksi medical inteligence, pemetaan lapangan secara medis oleh ahli dan WHO gunakan, pandemi ini masih panjang," ujarnya saat meninjau vaksinasi Covid-19 secara door to door di Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (18/7/2021).

Atas hal tersebut, pihaknya meminta masyarakat untuk bisa meningkatkan kesadaran dan proteksi diri dari potensi penularan Covid-19 melalui vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan.

Kepala BIN Budi Gunawan di Komples Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2020)
Kepala BIN Budi Gunawan di Komples Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2020) (Tribunnews.com/ Reza Deni)

Baca juga: Kantor BPOM Kebakaran, 15 Mobil Damkar Dikerahkan untuk Padamkan Api

Ia mengatakan, dengan vaksinasi Covid-19 yang menjadi upaya nyata pemerintah untuk menekan kasus positif Covid-19 di masyarakat, minimal bisa mencegah diri kita dari kematian.

"Kalaupun terpapar (Covid-19) itu penyembuhannya akan lebih cepat. Pemerintah sangat peduli menyelamatkan masyarakat, mari yang belum divaksinasi agar segera divaksinasi," kata Budi.

Sementara bagi masyarakat yang sudah divaksinasi, Budi juga meminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat sebagai upaya menekan potensi penularan Covid-19.

"Tentunya kami sangat mengharapkan seluruh masyarakat harus disiplin menerapkan prokes," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar masyarakat untuk menggunakan masker double karena ada varian baru yang lebih ganas dan cepat penularannya, sehingga upaya ini menjadi kunci untuk pencegahan.

Ancaman penyakit berikutnya

Masyarakat dunia saat ini sudah tak sabar ingin pandemi virus corona berakhir.

Namun, para pakar kesehatan mengatakan, akan lebih banyak lagi pandemi terjadi di masa depan.

Dalam 20 tahun terakhir saja, kita sudah mengalami lima pandemi besar yaitu SARS, MERS. Ebola, flu burung, dan flu babi.

Meski penyakit-penyakit tersebut sudah memberikan kita ilmu, tapi tetap saja dunia tidak bersiap diri saat pandemi Covid-19.

Penyebarannya yang cepat menunjukkan betapa bahayanya dunia yang semakin global ini saat terjadi pandemi.

Kenapa penyakit lebih mudah menular?

Menurut Victoria Brookes, dosen senior masalah kesehatan penduduk di Charles Sturt University, di masa lalu satu penyakit muncul di salah satu bagian dunia, namun kemudian selesai sebelum menyebar ke negara lain.

"Sekarang adanya perdagangan global dan perjalanan global membuat penyakit bisa membuat manusia membawanya menyebar dengan cepat," katanya.

Globalisasi juga menyebabkan perubahan besar terkait kondisi penyakit menular, khususnya penyakit yang berasal dari kehidupan alam liar.

Dengan peningkatan jumlah penduduk, kota semakin diperluas ke kawasan alam liar, sehingga menggangu pola kehidupan dan membuat binatang tertekan.

Dengan ekosistem hancur, binatang dengan manusia semakin memiliki kontak lebih dekat, akibat kerusakan hutan dan menurunnya kualitas lingkungan, sehingga terjadi "loncatan antar spesies". Inilah yang diperkirakan sedang terjadi saat pandemi virus corona.

"Salah satu penyebab utama munculnya penyakit-penyakit baru adalah meningkatnya interaksi antara manusia dan binatang," kata Hassan Vally dari La Trobe University di Melbourne.

"Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab munculnya penyakit baru. Faktor ini ditambah dengan fakta bahwa jika ada patogen yang memiliki kemampuan menyebar dengan cepat, maka akan segera menyebar karena pergerakan manusia yang sangat besar sekarang ini," tambahnya.

Diperkirakan lebih dari 60 persen munculnya penyakit menular berasal dari binatang, yang disebut zoonoses. Itulah sebabnya para peneliti lebih khusus memperhatikan kontak manusia dengan kehidupan liar.

"Populasi dari yang kita perkirakan akan muncul adalah spesies yang tinggal di koloni yang besar, yang melakukan perjalanan jarak jauh," kata Dr Brookes.

"Mereka bercampur dengan populasi dari spesies yang sama, dan juga karena mereka terbang, mereka bisa mengadakan kontak dengan banyak spesies lain, termasuk juga dengan manusia."

Zoonoses disebabkan karena adanya transmisi patogen seperti virus, parasit, bakteria, atau jamur yang disebabkan karena kontak langsung ataupun kontak tidak langsung antara binatang dan manusia.

Diperkirakan sekarang ini ada lebih dari 250 virus yang menyebar dari hewan ke manusia dan menyebabkan penyakit pada manusia.

Berbagai virus sudah menimbulkan kekhawatiran, tapi sejauh ini belum diidentifikasi virus mana yang sama-sama mengancam seperti virus corona atau bahkan lebih mengancam peradaban manusia, menurut sebuah penelitian.

WHO sendiri sudah memberikan nama untuk penyakit tersebut, yaitu Penyakit X, dan memasukkan ke dalam kategori penting untuk diteliti sejajar dengan Ebola dan SARS. Kita belum mengetahui apa jenisnya dan kemungkinan dampaknya.

Namun para peneliti mengatakan tanpa adanya pemantauan yang seksama dan juga persiapan, maka bumi ini akan mengalami bencana dengan kehadiran penyakit X.

Sumber: Kontan.co.id/Tribun Jabar

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Kepala BIN Budi Gunawan Menyebut Pandemi Covid-19 Masih Lama, Ini Alasannya

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas