Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pontjo Sutowo: Perapuhan Nilai Kebangsaan Juga Dipicu oleh Perilaku Pecah Belah Elite Politik

Terjadinya eskalasi perapuhan nilai-nilai kebangsaan saat ini seringkali dipicu oleh perilaku elite politik yang justru menjadi faktor pemecah belah.

Pontjo Sutowo: Perapuhan Nilai Kebangsaan Juga Dipicu oleh Perilaku Pecah Belah Elite Politik
ist
Pontjo Sutowo hadir dalam acara FGD Finalisasi Buku Kebangsaan yang Berperadaban : Membangun Indonesia dengan Paradigma Pancasila secara virtual, Rabu (28/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo mengatakan, terjadinya eskalasi perapuhan nilai-nilai kebangsaan saat ini seringkali dipicu oleh perilaku elite politik yang justru menjadi faktor pemecah belah di antara sesama anak bangsa.

Hal ini terjadi karena mereka menggunakan sentimen primordial seperti sentimen suku dan agama yang hidup di masyarakat untuk memobilisasi dukungan dalam Pilpres dan Pilkada.

"Politisasi sentimen primordial seperti ini dalam banyak kasus membuat terbelahnya kelompok masyarakat yang sangat tajam sehingga pada eskalasi tertentu berpotensi mengancam ke- Bhinneka Tunggal Ika-an yang sudah kita sepakati bersama sebagai salah satu konsensus nasional bangsa Indonesia," kata dia di acaraFGD Finalisasi Buku Kebangsaan yang Berperadaban : Membangun Indonesia dengan Paradigma Pancasila secara virtual, Rabu (28/7/2021).

Ketua Umum FKPPI ini menambahkan, memelihara pluralisme sebagai konsensus moral bangsa Indonesia, harus selalu diupayakan.

Tujuannya, agar basis-basis ikatan sentimen primordial bisa mengalami proses transformasi menjadi common domain yang efektif menjaga keutuhan bangsa kita yang majemuk.

Baca juga: Tak Hanya Akan Jadi Pusat Ibadah Umat Budha, Borobudur Juga Simbol Pluralisme dan Kebajikan di Dunia

Dia mengatakan, ada beberapa faktor yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk membangun common domain bangsa Indonesia.

Antara lain,  kesamaan sejarah, kesamaan atribut-atribut sosial budaya, saling ketergantungan antar daerah dan kehendak untuk hidup bersama.

Baca juga: Kepala LIPI: Kemajemukan Indonesia Harus Jadi Energi Konstruktif Bukan Destruktif

"Ada satu faktor penting yang kita miliki yaitu Pancasila sebagai shared values yang bisa dipedomani sebagai rujukan bersama untuk mendorong proses transformasi struktur dan kultur demi terwujudnya common domain ke-Indonesia-an tanpa menanggalkan identitas etnisitas dan identitas lainnya," kata dia.

Baca juga: Maruf Amin: Kemajemukan dan Keragaman Jadi Modal Kekuatan Nasional

Dia menegaskan, walaupun bangsa Indonesia memiliki potensi kultural untuk mewujudkan common domain bagi mengukuhkan ikatan kebangsaan kita, namun dirasakan adanya berbagai “paradoks” dalam realitas kebangsaan kita hari ini.

"Kita memiliki Pancasila yang disepakati sebagai ideologi kebangsaan kita, namun kenyataannya kita seakan menjauh darinya," katanya.

Dalam konteks paham pluralisme sebagai paham kebangsaan kita, ada beberapa fenomena yang menguatkan sinyalemen paradoksial tadi.

Antara lain adalah menguatnya poliitik identitas, politisasi sentimen primordial, terjadinya pembelahan publik yang sangat tajam akibat Pilkada dan Pilpres, dan lain-lain.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas