Tribun

Virus Corona

Asosiasi Buruh Minta Harga Tes PCR Turun Jadi Rp 97 Ribu Seperti India

Asosiasi Massa Buruh meminta pemerintah untuk menindaklanjuti keluhan dari banyak masyarakat mengenai mahalnya biaya tes PCR di Indonesia.

Penulis: chaerul umam
Editor: Hasanudin Aco
Asosiasi Buruh Minta Harga Tes PCR Turun Jadi Rp 97 Ribu Seperti India
Ist
Wakil Sekjen  DPP KSPSI Arnod Sihite. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Massa Buruh meminta pemerintah untuk menindaklanjuti keluhan dari banyak masyarakat mengenai mahalnya biaya tes PCR di Indonesia.

Biaya PCR yang murah tentu akan sangat membantu masyarakat dan dinilai penting untuk meningkatkan testing dan mencegah penularan yang lebih tinggi di masyarakat.

"Coba bayangkan saja bagaimana baik pekerja atau pengusaha tentu sangat dirugikan jika ada kasus Covid di tempat kerja lalu dengan biaya sendiri atau perusahaan untuk lakukan PCR. Itu pun belum lagi kalau setelah PCR ulang bisa beberapa kali  untuk mengetahui Negatif dan positif. Sekarang harga PCR di kita sekitar Rp 574 ribu itu pun harga promo. Bayangkan betapa sangat membebankan biaya begitu," kata Wakil Sekjen  DPP KSPSI Arnod Sihite kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/8/2021).

Menurut Ketua Umum FSP PPMI KSPSI ini, di India biaya PCR hanya Rp 97 ribu atau 500 Rupee yang merupakan kebijakan negara.

"Di India bisa murah kenapa di kita sangat mahal ya. Kami dorong Satgas untuk menindaklanjuti ini karena sangat penting dan tentu saja membantu di tengah situasi seperti sekarang ini," katanya.

Baca juga: Selain Naik Pesawat, Masuk Mal di Jakarta Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin hingga Hasil Negatif PCR

Di India jelas dia berdasarkan data  laboratorium di Delhi biaya tes PCR sebesar 500 Rupee atau Rp 97.079 (kurs Rs 1= Rp 194.15).

Apabila sampel diambil di rumah maka ada tambahan menjadi 700 Rupee atau Rp 135.912, sedangkan biaya antigen sebesar 300 Rupee atau Rp 58.243.

"Makanya 3T di India bisa berjalan masif karena biayanya murah sehingga infeksi covid-19 bisa di deteksi secara dini dan perawatan di RS untuk pasien dengan kondisi berat bisa diturunkan jumlahnya," ucapnya.

"Tidak heran juga kasus positif kita masih tinggi diatas 30 ribu/hari pada Rabu (10/8) jumlah kasus 32.081. Jadi tolong ini segera ditindaklanjuti," pungkas Ketua Dewan Nasional Masyarakat Pertambangan Indonesia tersebut.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas