Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Mentan SYL Sampaikan Tantangan Pengembangan Food Estate

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebut pengembangan food estate ke depan memiliki sejumlah tantangan.

Mentan SYL Sampaikan Tantangan Pengembangan Food Estate
Kementan
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebut pengembangan food estate ke depan memiliki sejumlah tantangan.

Aspek yang harus diperhatikan bukan hanya di hulu tetapi sampai ke hilir termasuk adaptasi teknologi.

"Hilirisasi sampai ke marketplace harus dipikirkan. Mudah-mudahan secara bertahap pertanian akan menjadi kekuatan bangsa ini, kekuatan daerah untuk menghadirkan kehidupan rakyat yang lebih baik," ucap Mentan dalam webinar yang digelar Tribun Network, Senin (27/9/2021).

Mentan menambahkan saat ini sudah ada empat lokasi potensial untuk food estate.

"Di rawa-rawa ada di Kalimantan Tengah, di gunung ada di Sumatera Utara, di dataran rendah Sumba Tengah, NTT dan Pulau Maluku tapi kita belum masuk ke sana," ujarnya.

Baca juga: Jaga Ketahanan Pangan, PLN Pasok Listrik ke Kawasan Food Estate Kalteng

Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo menyampaikan perkembangan food estate di Kalimantan Tengah.

Masterplan pembangunan lumbung pangan nasional ini masih dalam tahap finalisasi.

"Percepatan dilakukan melalui rapat koordinasi guna memastikan yang diwacanakan bisa terimplementasi," kata Wahyu.

Wahyu mengatakan, Kalimantan Tengah diharapkan menjadi percontohan food estate untuk provinsi lainnnya.

Baca juga: Strategi untuk Petani, Airlangga: Kelola Food Estate dengan Sistem Korporasi

Menurutnya, pengembangan food estate ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang idle, tanpa membuka kawasan hutan.

Wahyu menegaskan pada akhirnya areal eks proyek lahan gambut seluas 1 juta hektare pada 1995 digunakan untuk membangun lumbung pangan.

"Pemerintah mencoba meyakinkan program ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Karena itu Bapak Presiden meminta kementerian dan lembaga (K/L) menyusun kajian lingkungan hidup strategis atau KLHS," katanya.

Ia juga menyampaikan agar skema pembiayaan food estate tidak membebani APBN atau APBD.

Pola kerjasama menjadi fokus utama dalam proyek pembangunan proyek strategis nasional ini.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas