Tribun

Legislator PAN Soroti Pernyataan Menag: Tendensius dan Timbulkan Kegaduhan 

Ia menambahkan, pernyataan Menag telah mengaburkan bahkan menghilangkan peran aktif dan sikap toleransi dari wakil-wakil pemimpin Islam ketika itu. 

Penulis: chaerul umam
Editor: Malvyandie Haryadi
Legislator PAN Soroti Pernyataan Menag: Tendensius dan Timbulkan Kegaduhan 
/Alex Suban
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional Guspardi Gaus. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus sangat menyayangkan narasi yang disampaikan Menteri Agama bahwa kehadiran Kementerian Agama (Kemenag) bukanlah hadiah dari negara untuk umat Islam secara keseluruhan. 

Tetapi hadiah negara secara khusus kepada Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu disebut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam webinar "Santri Membangun Negeri dalam Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi" yang ditayangkan di kanal YouTube TVNU, Rabu (20/10/2021). 

"Penyataan Menag itu sangat tendesius dan dapat memantik polemik dan kegaduhan di tengah masyarakat. Juga menafikan peranan dan sikap toleransi para wakil-wakil pemimpin Islam saat Pendirian Kementrian Agama," kata Gusparadi, kepada wartawan, Senin (25/10/2021). 

"Membaca dari sejarah, pembentukan Kementrian Agama di tetapkan dengan Penetapan Pemerintah No1/SD pada tanggal 3 Januari 1946. Dan itu dipandang sebagai kompensasi atas sikap toleransi wakil-wakil pemimpin Islam moncoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta yaitu Ketuhanan  dengan kewajiban menjalankan syariat Islam  bagi pemeluk-pemeluknya," imbuhnya.

Baca juga: Ramai-ramai Kritik Menteri Agama yang Ucap Kemenag Hadiah Negara bagi NU, Buya Anwar: Bubarkan Saja

Legislator asal Sumatera Barat itu menambahkan, pernyataan Menag telah mengaburkan bahkan menghilangkan peran aktif dan sikap toleransi dari wakil-wakil pemimpin Islam ketika itu. 

Kompromi wakil- wakil pemimpin Islam maknanya bukan hanya NU tetapi juga ormas Islam yang lainnya mempunyai peranan dan kontribusi dalam pembentukan Kementrian Agama. 

"Ditambah lagi, jika memang hadiah khusus negara untuk NU, kenapa Menteri Agama pertama yang ditunjuk bukan tokoh yang berasal dari NU, melainkan tokoh Muhammadiyah bernama H.M. Rasjidi. Beliau adalah seorang ulama berlatar belakang pendidikan Islam modern lulusan Al Azhar Cairo dan Universitas Sorbonne, Prancis," katanya. 

Lebih lanjut, Guspardi menegaskan Kementerian Agama itu dibentuk bukan dikhususkan bagi pemeluk agama Islam saja. Tetapi untuk semua pemeluk agama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Dan itu terwujud dengan dorongan dan sikap kompromi serta toleransi wakil-wakil pemimpin Islam. Tentu dengan harapan, Kementerian Agama dapat berperan lebih besar sebagai rumah bersama seluruh umat beragama," pungkas anggota Baleg DPR RI itu. 

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas