Tribun

Cegah Penularan Covid-19, Perguruan Tinggi Gelar Wisuda Secara Hybrid

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE - IBS) Jakarta mengelar wisuda secara hybrid, yakni luring dan daring.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Sanusi
zoom-in Cegah Penularan Covid-19, Perguruan Tinggi Gelar Wisuda Secara Hybrid
ist
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE - IBS) Jakarta mengelar wisuda secara hybrid, yakni luring dan daring. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE - IBS) Jakarta mengelar wisuda secara hybrid, yakni luring dan daring.

Ketua Senat STIE -IBS Djokosantoso Moeljono mengatakan wisuda secara hybrid digelar untuk perlindungan bagi segenap civitas academica dari penularan Covid-19.

Baca juga: Kasau Pimpin Upacara Tupdik Seskoau A58, Wisuda Pascasarjana Magister Terapan Strategi Operasi Udara

"Peserta yang hadir hanya perwakilan wisudawan dengan tetap mengikuti protokoler kesehatan dalam upaya pencegahan penularan covid-19 di ruang Auditorium Rachmat Saleh LPPI Kemang, Jakarta Selatan," ucap Djokosantoso melalui keterangan tertulis, Minggu (21/11/2021).

Wisuda digelar secara online melalui aplikasi zoom pada Sabtu (20/11/2021) kemarin.

Keluarga, orangtua, atau pendamping wisudawan atau wisudawati menyaksikan prosesi wisuda Live Streaming melalui channel YouTube Indonesia Banking School.

Para wisudawan duduk di barisan depan dengan jarak minimal satu meter serta diwajibkan menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan.

Baca juga: Dana Rp 910 Juta Terkumpul untuk Bantu Mahasiswa Teknik yang Terdampak Pandemi

Sementara itu, Ketua STIE-IBS Dr. Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono mengatakan tahun 2021 ini seluruh wisudawan berjumlah 317 orang.

Termasuk strata 2 dari berbagai kota di luar pulau Jawa, mulai dari ujung timur Indonesia, yaitu Kupang, Waingapu, Maumere, Gorontalo, Baubau, Bandar Lampung, Bangka, dan Natuna.

"Kami tetap menyelenggarakan wisuda ini sebagai bentuk komitmen IBS untuk melepas para mahasiswa yang telah berhasil menuntaskan perkuliahannya dan akan terjun ke masyarakat untuk mengabdi bagi negeri," ucap Kusumaningtuti.

Menurut dia, IBS bertransformasi untuk memfokuskan mencetak lulusan-lulusan IBS yang dapat berkompetisi di kancah regional dan internasional.

"Secara rata-rata lulusan STIE IBS ratio langsung bekerja setelah lulus atau di bawah masa tunggu 3 bulan hampir mencapai 90 persen. Lulusan STIE IBS menyebar ke segala penjuru baik di dalam dan luar negeri," kata Kusumaningtuti.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan peranan dunia perbankan.

Dalam 12 tahun terakhir, perekonomian Indonesia cenderung tumbuh di bawah potensialnya. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya.

"Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa mengapa kita masih lower midle income, salah satunya adalah tingkat produktivas kita yang masih rendah," kata Suharso.

Tingkat produktivitas yang masih rendah ini masih menjadi suatu isu dalam 30 tahun dan kita tidak pernah loncat dalam tingkat produktivitas.

Penyebab rendahnya produktivitas karena jarang sekali mahasiswa diajarkan total factor productivity (TFP).

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas