Tribun

BRGM Kebut Penyelesaian Rehabilitasi Mangrove 34 Ribu Hektare

(BRGM) terus mengejar target penyelesaian rehabilitasi mangrove yang telah ditetapkan diawal tahun 2021, yaitu 34 ribu hektare. 

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in BRGM Kebut Penyelesaian Rehabilitasi Mangrove 34 Ribu Hektare
Ist
Jelang akhir tahun, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus mengejar target penyelesaian rehabilitasi mangrove yang telah ditetapkan diawal tahun 2021, yaitu 34 ribu hektare. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang akhir tahun, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus mengejar target penyelesaian rehabilitasi mangrove yang telah ditetapkan diawal tahun 2021, yaitu 34 ribu hektare. 

Rehabilitasi mangrove tahun ini dilaksanakan dengan kerangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui penanaman bibit mangrove

Penanaman bibit mangrove BRGM ini dilakukan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pelaksananya adalah masyarakat langsung dan merupakan program yang pertama kalinya dilakukan dengan skala besar. 

Harapannya program ini, selain memulihkan fungsi ekologi mangrove, juga dapat membantu perekenomian masyarakat ditengah maraknya pandemi Covid-19, terutama masyarakat yang berada di provinsi target percepatan rehabilitasi mangrove BRGM

Salah satu provinsi target BRGM adalah Kalimantan Utara (Kaltara). Pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Kaltara tidaklah mudah, terutama yang berada di Kec. Nunukan, mengingat mata pencaharian masyarakat disana sebagian besar adalah petani rumput laut. 

Baca juga: Dongkrak Ekonomi Masyarakat, BRGM Gencarkan Kegiatan Revitalisasi Mata Pencaharian

“Mayoritas masyarakat di sini kan mata pencahariannya sebagai petani rumput laut. Kalau untuk membuat jemuran rumput laut, mereka biasa buat dari kayu bakau atau mangrove,” kata Ketua Kelompok Masyarakat The North Borneo Adventure (TNBA) Zulkarnain Masri dalam keterangannya, Sabtu (18/12/2021).

Lanjut Zulkarnain, mengingat program rehabilitasi mangrove BRGM ini baru, maka perlu pendekatan dan edukasi manfaat mangrove jangka panjang kepada masyarakat terlebih dahulu. 

Seperti mencegah abrasi, intrusi air laut, dan mengembalikan biota laut yang dapat memberikan manfaat ekonomi. 

“Awalnya agak susah, tapi setelah tahu dampak ekonomi, masyarakat dilibatkan dan diberdayakan, mereka jadi senang. Ibu-ibu dan Bapak-bapak disini gotong royong, ada yang menyiapkan bibit dan ada juga yang membuat ajir,” kenang pria yang sekaligus aktivitis lingkungan ini. 

Ketua Kelompok TNBA yang beranggotakan 105 orang ini, mengaku bangga telah terlibat dan mampu menyelesaikan penanaman bibit  mangrove seluas 139 hektare. 

“Program BRGM ini juga membantu ekonomi masyarakat disini,” tuturnya. 

Dilain pihak, Sundari Rahmawati selaku pendamping desa di Kecamatan Nunukan, mengatakan tantangan lain dari penanaman bibit mangrove di Kaltara adalah adanya masyarakat yang berubah pikiran terkait penanaman bibit mangrove di areal lahan miliknya. 

“Ada pemilik tambak yang awalnya berkenan untuk direhabilitasi, ternyata berubah pikiran saat proses berjalan. Ini yang kemudian memperlambat penyelesaian penanaman bibit mangrove disini’” ujar Sundari yang kerap dipanggil Ibu Ai ini. 

Menanggapi hal ini, Kepala Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah terlibat dalam penanaman mangrove BRGM tahun ini. 

Baca juga: Budidaya Jeruk di Lahan Gambut Menjanjikan, BRGM Berikan Bantuan Bibit ke Petani

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas