Tribun

Virus Corona

Ahli Epidemiologi Sebut 2 Kali Vaksin Sinovac Tak Cukup Hadapi Omicron, Perlu Booster Vaksin mRNA

Ahli epidemiologi Indonesia Dr Dicky Budiman menyebut bahwa vaksin Covid-19 jenis Sinovac kurang efektif melawan Omicron, untuk itu perlu booster mRNA

Penulis: Galuh Widya Wardani
Editor: Whiesa Daniswara
zoom-in Ahli Epidemiologi Sebut 2 Kali Vaksin Sinovac Tak Cukup Hadapi Omicron, Perlu Booster Vaksin mRNA
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Tenaga medis menunjukkan vaksin Covid-19 Pfizer booster saat pelaksanaan vaksinasi dosis ketiga di Kantor OJK, Wisma Mulia 2, Jakarta Selatan, Minggu (23/1/2022). Pemerintah mulai mendistribusikan vaksin Covid-19 booster atau vaksin dosis ketiga kepada masyarakat umum. Vaksin booster bertujuan untuk memperkuat imunitas masyarakat di tengah serbuan virus corona varian Omicron di Indonesia. WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA 

TRIBUNNEWS.COM - Ahli epidemiologi Indonesia, Dr Dicky Budiman menyebut bahwa vaksin Covid-19 jenis Sinovac kurang efektif melawan Omicron.

Untuk itu, bagi masyarakat yang telah mendapatkan vaksinasi Sinovac diharapkan bisa mendapatkan vaksin booster jenis mRNA.

Meskipun telah mendapatkan vaksin Sinovac sebanyak dua kali suntikkan.

Budiman menyebut, mungkin saja tingkat kematian akibat Omicron rendah, namun tidak ada salahnya untuk mengantisipasi peningkatan jumlah kematiannya.

“Angka kematian mungkin juga lebih rendah, tetapi saya tidak dapat menjamin itu karena Sinovac kurang efektif melawan Omicron dibandingkan dengan vaksin messenger RNA," kata Budiman dikutip dari Kompas.com, Senin (7/2/2022).

Baca juga: Menkes: Tak Usah Panik Lihat Jumlah Kasus Covid-19 Naik, Pasien Meninggal dan Masuk RS Rendah

Baca juga: Menkes: Tak Usah Panik Lihat Jumlah Kasus Covid-19 Naik, Pasien Meninggal dan Masuk RS Rendah

Untuk itu, demi dapat mengurangi rawat inap, kata Budiman, pemerintah harus meningkatkan pengujiannya.

Pemerintah, kata Budiman, juga harus mempercepat dilakukannya penyuntikan booster untuk orang tua.

Yakni dari sebelumnya, vaksinasi booster harus dilakukan enam bulan setelah dosis kedua, kini dipercepat menjadi menjadi empat bulan setelah dosis kedua.

Menurut Budiman, kasus harian Covid-19 akan naik 10 kali dari gelombang kedua.

“Kasus harian akan 10 kali lebih buruk dari gelombang kedua tetapi untuk rawat inap hanya setengahnya,” ujar Budiman.

Bahkan, kata Budiman, gelombang selanjutnya juga akan mencatat 300.000 hingga 500.000 kasus dalam sehari.

Sebagai catatan positif, kata dia, tingginya jumlah infeksi yang menyebar selama gelombang kedua akan memberi orang Indonesia tingkat kekebalan.

Baca juga: Pemerintah Percepat Vaksinasi untuk Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19, Luhut Imbau Masyarakat Tak Panik

Kendati demikian, Budiman mengungkapkan penelitian terbaru menunjukkan korban Omicron dapat terinfeksi kembali dengan strain BA2 Omicron.

“Tetapi manfaat dari penyebaran Delta pada Juli adalah banyak orang Indonesia yang telah menerima Sinovac dan terinfeksi tanpa mengetahui karena tidak menunjukkan gejala, akan memiliki beberapa tingkat kekebalan," tambah Budiman.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas