Tribun

Kontroversi Holywings

Polemik Promo Alkohol Holywings, Ketua Umum LDII: Setop Gunakan Kata Radikal pada Pemilik Agama

Ketum LDII Chriswanto Santoso ikut merespons kontroversi Holywings, dia meminta siapapun untuk berhenti melecehkan agama apapun.

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Theresia Felisiani
zoom-in Polemik Promo Alkohol Holywings, Ketua Umum LDII: Setop Gunakan Kata Radikal pada Pemilik Agama
Kolase Tribunnews
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (Ketum LDII), KH Chriswanto Santoso dan penutupan Holywings di ibu kota  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kritik dan keprihatinan berdatangan terhadap manajemen Holywings, saat membuat promosi minuman beralkohol gratis bagi mereka yang bernama Muhammad dan Maria.

Isu terkait Holywings ini juga menjadi perhatian Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (Ketum LDII), KH Chriswanto Santoso yang meminta siapapun untuk berhenti melecehkan agama apapun.

Menurut KH Chriswanto Santoso, bangsa Indonesia harusnya mengubah persepsi soal radikal.

Menurut Chriswanto Santoso  kata radikal selalu disematkan kepada pemeluk agama, sementara orang-orang sekuler ketika melewati batas, tidak disebut radikal.

Padahal radikalisme penganut sekularisme justru tampak, saat mereka mulai mencemooh agama.

“Kita bisa bercanda mengenai apa saja di alam demokrasi ini, tapi persoalan agama bukan hal bisa dibuat bercanda. Pertama itu adalah soal keyakinan, dan kedua soal hak asasi manusia,” ujar KH Chriswanto Santoso dalam keterangannya, Senin (4/7/2022).

Chriswanto mengatakan, dalam negara demokrasi yang liberal, sah-sah saja mengungkapkan ekspresi.

Namun dalam konteks Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan beragam agama dan suku bangsa, menghina agama sangatlah tidak pantas.

Kedudukan agama, bagi sebagian besar orang adalah paling suci.

Bahkan, menempatkan kesakralannya di atas ayah-ibu.

“Bila orangtua kita dihina, pastilah tidak berkenan. Apalagi agama yang dihina,” imbuh KH Chriswanto.

Menurutnya, bangsa Indonesia tidak bisa meniru kebebasan beragama seperti di Barat.

Bila di Barat menghina agama lain sebagai bagian kebebasan berekspresi, di Indonesia sebaliknya, bukan bebas menghina tapi bebas memberi ruang keyakinan kepada orang lain, meskipun berbeda agama dan keyakinan.

Menurutnya, disinilah keistimewaan bangsa Indonesia, pada satu sisi meyakini ajaran agamanya paling benar, namun membuka ruang toleransi.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas