UPDATE Kasus Gubernur Papua Lukas Enembe: Disebut Punya Tambang Emas, Mahfud MD Singgung Dana Otsus
Inilah update kasus Gubernur Papua Lukas Enembe yang menjadi tersangka dugaan suap dan gratifikasi.
Penulis: Nuryanti
Editor: Arif Tio Buqi Abdulah
"Meminta kebijaksanaan Bapak Pimpinan KPK untuk memperhatikan dari sisi pendekatan kemanusiaan agar Pak Lukas dapat mendapat pelayanan kesehatan yang terbaik," terang Roy.
Baca juga: MAKI Sebutkan Tempat yang Dikunjungi Lukas Enembe untuk Main Kasino, Singapura hingga Manila
Lukas Enembe Disebut Punya Tambang Emas
Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Stefanus Roy Rening menyebut kliennya memiliki tambang emas di Kabupaten Tolikara, Papua.
Ia mengungkapkan, tambang emas tersebut dikelola secara tradisional.
"Perlu saya sampaikan bahwa Pak Gubernur ini punya tambang emas di kampung dia di Mamit, Tolikara."
"Saya sudah konfirmasi (ke Lukas Enembe)," ungkapnya dalam program Rosi yang ditayangkan YouTube Kompas TV, Kamis (22/9/2022).
Menurutnya, hingga saat ini pengurusan izin tambang emas tersebut tengah diurus.
"Fotonya (lokasi tambang emas) segera, dan dokumennya (izin tambang emas) segera dibawa ke Jakarta untuk nantinya diberitahukan ke KPK," jelasnya.
Baca juga: Lukas Enembe Jadi Tersangka di KPK, Wapres Maruf Amin: Semua Orang Harus Patuh Hukum
Mahfud MD Singgung Dana Otsus di Era Lukas Enembe
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menyebut korupsi menjadi penyebab masyarakat di Papua tetap berada dalam kemiskinan.
Dia menuturkan, anggaran yang telah dikeluarkan Pemerintah Pusat sejak Otonomi Khusus (Otsus) Papua sejak 2001 senilai Rp 1000,7 triliun.
Namun, kata Mahfud MD, anggaran itu tidak menjadi apa-apa.
"Marah kita ini, negara turunkan uang, rakyatnya miskin kayak gitu, Rp 1000,7 triliun itu sejak tahun 2001 sejak UU Otsus," ujarnya di Universitas Islam Malang (Unisma), Jumat, dikutip dari Kompas.com.
Mahfud MD menambahkan, sejak Papua dipimpin oleh Gubernur Lukas Enembe, anggaran dari Pemerintah Pusat sebanyak Rp 500 triliun juga tidak menjadi apa-apa.