Asal Usul dan Sejarah Nama Lubang Buaya, Lokasi Pembuangan Jasad Korban G30S
Berikut asal nama Lubang Buaya di mana tempat untuk membuang jenazah para jendral yang diculik, disiksa, dan dibunuh oleh anggota G30S.
Penulis: Pondra Puger Tetuko
Editor: Wahyu Gilang Putranto
Legenda yang kedua, disebutkan adanya orang sakti yang bernama Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah, pencetus nama Lubang Buaya di daerah itu.
Keturunan kesembilan Mbah Datuk, Yanto Wijoyo mengatakan jika penamaan Lubang Buaya berawal dari leluhurnya yang melakukan perjalanan ke Jakarta di abad 7.
Perjalanan itu melalui sungai Sunter dengan mengendarai kendaraan dari bambu yang biasa disebut getek.
Saat melakukan perjalanannya, getek Mbah Datuk masuk ke lubang hingga menyentuh dasar sungai Sunter.
Yanto menambahkan, jika di sungai Sunter terdapat penguasa gaib seekor siluman buaya putih.
Siluman buaya putih itu memiliki anak bernama Mpok Nok, seekor buaya tanpa ekor yang disebut buaya buntung.
"Mbah Datuk Banjir kan datang kemari sebagai pendatang. Masuk di kampung ini berhadapan dengan halangan-halangan daripada jin, penguasa Kali Sunter. Akhirnya bisa ditaklukkan dan akhirnya bisa dijadikan, bahasa kasarnya santrinya lah," imbuh Yanto.
Mbah Datuk pun bertarung melawan keduanya sebelum dapat masuk ke desa yang dinamai Lubang Buaya.
Akhirnya menang melawan kedua buaya tersebut, Mbah Datuk memberi nama Lubang Buaya yang mengacu pada desa tersebut.
(Tribunnews.com/Pondra Puger) (TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci) (Serambinews/Amirullah) (Grid.id)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.