Tribun

Kata Paulus Waterpauw Soal Tudingan Adanya Utusan Istana Minta Dirinya Jadi Wakil Bupati Papua

Permintaan untuk menggantikan klemen Tinal datang dari Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto bukan dari Istana.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Kata Paulus Waterpauw Soal Tudingan Adanya Utusan Istana Minta Dirinya Jadi Wakil Bupati Papua
Ist
Penjabat Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penjabat (Pj) Gubernur Papua Barat Paulus Waterpauw angkat bicara mengenai tudingan kubu Partai Demokrat mengenai adanya utusan Istana yang meminta dirinya menggantikan almarhum Klemen Tinal sebagai Wakil Gubernur Papua.

Menurut dia permintaan untuk menggantikan klemen Tinal datang dari Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto bukan dari Istana.

“Itu dari Golkar, Airlangga sendiri yang datang ke sana,” kata Waterpauw usai menghadiri arahan Presiden kepada pemimpin lembaga, Kepala Daerah, Pangdam, Kapolda, dan pimpinan sejumlah BUMN di Jakarta Convention Center, Kamis, (29/9/2022).

Ia mengatakan Airlangga memiliki hak untuk meminta dirinya menggantikan Klemen Tinal karena kursi Wagub merupakan hak Golkar bukan hak Partai Demokrat.

Baca juga: Jokowi Perlu Evaluasi Ulang Jabatan Budi Gunawan, Tito Karnavian, dan Paulus Waterpauw

Untuk diketahui kubu Demokrat menilai Lukas Enembe merupakan sasaran kriminilasisai setelah menolak calon Wagub yang disodorkan Istana yakni Waterpauw.

Demokrat malah mengajukan kadernya sendiri yakni Yunus Wonda yang menjabat Wakil Ketua DPR Papua, sehingga kursi Wagub tersebut kosong hingga sekarang.

“(Airlangga) mengatakan bahwa calon kami pengganti almarhum Klemen Tinal sebagak ketua DPD Golkar adalah Paulus Waterpauw. Tolong klarifikasi dengan beliau. Itu Ketum Gokar, itu sesungguhnya hak Golkar untuk Wagub, bukan hak Demokrat,” tutur Waterpauw.

Ia juga membantah bahwa permintaan menjadi Wagub Papua datang dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Adapun foto yang memperlihatkan dirinya bersama Tito dan Kepala BIN Budi Gunawan diambil sebelum pelantikan Kapolda Papua. Tito saat itu masih menjabat sebagai Kapolri.

“Kalau di foto itu, sebenarnya saya klarifikasi. Saat itu saya Kapolda Sumut. Papua tidak mampu diurus, itu kenapa saya bisa jadi Kapolda (Papua) dua kali. Dari Sumut, saya kembali Kapolda Papua karena persoalan begitu genting, yang gantikan saya sebaga Kapolda belim maksimal sehingga beliau-beliau memanggil saya bertemu dengan pak Lukas untuk meminta agar bersedia tidak kembali lagi ke Papua,” pungkasnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas