Tribun

Kurang Populer di Pemilih Muda, PPP Dinilai Masih Butuh Suharso Monoarfa

Berdasarkan survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi salah satu partai

Penulis: Erik S
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Kurang Populer di Pemilih Muda, PPP Dinilai Masih Butuh Suharso Monoarfa
Istimewa
Suharso Monoarfa 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Berdasarkan survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi salah satu partai yang kurang populer di kalangan pemilih muda.

Survei CSIS ini dilakukan pada rentang waktu 8-13 Agustus 2022 terhadap responden yang berusia 17-39 tahun yang diasumsikan sebagai pemilih muda.

Penarikan sampel menggunakan multistage random sampling terhadap 1.200 responden di 34 provinsi. Margin of error sebanyak +/-2,84 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Survei tersebut menyajikan pertanyaan 'Apakah Anda mengenal (pernah dengar/melihat/mengetahui) nama-nama partai di bawah ini/ Dan bila mengenal, apakah Anda suka dengan partai politik tersebut?'.

Baca juga: Perluas Kerjasama Transisi Energi, Menteri Suharso Monoarfa Kedatangan Pejabat Prancis

Hasilnya PPP berada di urutan bawah bersama dengan PBB, PSI, Partai Garuda, Partai Berkarya, PKPI, Partai Gelora dan Partai Ummat.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik dan CEO Point Indonesia Karel Susetyo menyatakan ini pertanda lampu kuning bagi PPP.

Menurut Karel, ini bisa berdampak pada keikutsertaan PPP pada Pemilu 2024.

Untuk itu, lanjut Karel, PPP segera melakukan konsolidasi internal dengan menyatukan kekuatan paska Munas Serang.

Kepemimpinan baru di PPP, menurut Karel, tak bisa membuang gerbong Suharso Monoarfa dengan begitu saja.

Dalam kondisi saat ini, PPP lebih membutuhkan Suharso Monoarfa ketimbang sebaliknya.

"Suharso Monoarfa telah menunjukkan kelas nya sebagai seorang Negarawan tanpa pamrih, yang berhasil menyelamatkan PPP dari keterpurukan jelang pemilu 2019," kata Karel dalam keterangannya, Senin (3/10/2022).

Meski disingkirkan secara kasar lewat Munas Serang, lanjutnya, Suharso tak pernah menunjukkan sikap marah, ngambek apalagi sampai keluar dari partai dan membentuk partai sempalan.

Baca juga: Gemuruh Teriak Presiden Saat Gubernur DKI Hadiri Acara PPP Jakarta, Anies: Terima Kasih Dukungannya

Sebaiknya Mardiono cs menghormati sosok Suharso Monoarfa sebagai bagian awal dari strategi politik pemenangan pemilu 2004.

Tanpa itu, PPP bisa gembos dari dalam. Apalagi Suharso Monoarfa pernah berjasa menyelamatkan PPP pada pemilu 2019 lalu, dimana ketika itu Ketum PPP M Rohamurmuziy tertangkap OTT oleh KPK.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas