Tribun

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Nugroho Setiawan soal Tragedi Kanjuruhan, Soroti tentang Kesamaan Persepsi: Tidak Boleh Terjadi Lagi

Tragedi Kanjuruhan turut disesali dan disayangkan oleh Nugroho Setiawan, seorang Security Officer di Asian Football Confederation (AFC).

Penulis: Arif Tio Buqi Abdulah
Editor: Garudea Prabawati
zoom-in Nugroho Setiawan soal Tragedi Kanjuruhan, Soroti tentang Kesamaan Persepsi: Tidak Boleh Terjadi Lagi
AFP/JUNI KRISWANTO
Sepatu bekas tergeletak di pinggir lapangan Stadion Kanjuruhan beberapa hari setelah penyerbuan maut menyusul pertandingan sepak bola di Malang, Jawa Timur pada 3 Oktober 2022. - Kemarahan terhadap polisi memuncak di Indonesia pada 3 Oktober setelah sedikitnya 125 orang tewas di salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah sepak bola, ketika petugas menembakkan gas air mata di stadion yang penuh sesak, memicu penyerbuan. (Photo by Juni Kriswanto / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM - Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan jiwa telah menyedot perhatian seluruh dunia.

Tragedi yang terjadi setelah laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) itu masuk dalam kejadian paling mematikan di sejarah sepak bola dunia.

Sebanyak 125 korban jiwa meninggal dunia dalam tragedi itu, 21 orang mengalami luka berat dan 304 orang luka ringan.

Kejadian ini turut disesali dan disayangkan oleh Nugroho Setiawan, seorang Security Officer di Asian Football Confederation (AFC).

Nugroho Setiawan merupakan satu-satunya orang Indonesia yang mengantongi lisendi dari FIFA sebagai Security Officer.

Ia sebelumnya pernah menjabatat sebagai Head of Infrastructure, Safety, and Security di PSSI, namun sejak 2020 lalu ia tak lagi di PSSI.

Baca juga: PROFIL Nugroho Setiawan, Anggota TGIPF Tragedi Kanjuruhan yang Miliki Lisensi FIFA Security Officer

Nugroho mengatakan peristiwa di Kanjuruhan Malang itu seharusnya tidak boleh terjadi karena sebenarnya semuanya bisa dikalkulasi dan diprediksi, kemudian dimitigasi.

Menurutnya, kejadian ini adalah sebuah ironi di tengah prestasi Timnas Indonesia yang sedang naik peringkat di 152 dunia, tapi justru sepakbola dalam negeri menelan korban hingga ratusan jiwa.

"Kita naik peringkat 152 dunia dengan korban 125 jiwa. Menyedihkan, speechless, ini tidak boleh terjadi lagi," kata Nugroho saat berbincang di Podcast YouTube Sport77 Official.

Ia pun menyoroti pentingnya menyatukan kesamaan persepsi dalam sebuah pengamanan sepakbola.

"Rumusnya POAC, Planning, Organizing, Actuating, Controlling," kata Nugroho.

Dalam melakukan perencanaan, akan ada suatu penilaian yang berdasarkan fakta-fakta, atau diistilahkan yakni risk management.

Dari hasil penilaian itu nantinya akan dikategorikan apakah pertandingan tersebut termasuk high risk, medium risk atau low risk.

"Dari risk manajemen itu keluar satu rekomendasi bagaimana menghindari atau memperingan risiko yang bisa terjadi," kata Nugroho.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas