Tribun

Presidensi G20

Arsjad Rasjid dan Paus Fransiskus Bertemu Jelang KTT G20, Ini Yang Dibicarakan

Ketua Umum KADIN Indonesia juga mengundang Paus Fransiskus untuk berkunjung ke Indonesia tahun depan, dan menggalang kerja sama nyata

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Arsjad Rasjid dan Paus Fransiskus Bertemu Jelang KTT G20, Ini Yang Dibicarakan
Ist
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid bertemu Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus di Vatican, berdiskusi tentang pemulihan dunia dari ancaman perubahan iklim, upaya bersama menciptakan kesejahteraan serta menjamin tatanan hidup yang layak bagi generasi selanjutnya. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP-27 UNFCCC) di Mesir dan KTT G20 di Bali, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid menyambangi Vatikan.

Tentu, kedatangannya guna membahas pengembangan ekosistem energi hijau dan ekonomi berkelanjutan. 

Di sela-sela pertemuan tersebut, Arsjad Rasjid bersama Presiden COP-24 sekaligus Mantan Menteri Iklim dan Lingkungan Polandia, Michal Kurtyka, berkesempatan bertemu dengan Pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus

Dialog tiga pihak tersebut menyepakati bahwa perubahan mendasar dalam ekonomi global seyogyanya bersumber dari nilai-nilai moral, spiritual, dan agama. 

Dalam pertemuan itu, ketiganya  menyepakati untuk memperkenalkan dan mempromosikan tidak hanya sekedar 3P (People, Planet, Profit), tetapi 5P sebagai prinsip utama dalam melawan tantangan global saat ini, yakni Peace (Perdamaian), Prosperity (Kesejahteraan), People (Masyarakat), Planet (Bumi), dan Partnership (Kolaborasi inklusif). 

Secara khusus, Ketua Umum KADIN Indonesia juga mengundang Paus Fransiskus untuk berkunjung ke Indonesia tahun depan, dan menggalang kerja sama nyata dalam mewujudkan kelima prinsip utama tersebut.

Tentu, agar dapat diimplementasikan dalam kultur Indonesia, berdasarkan pada dialog antaragama dan budaya yang inklusif.

Menurut Arsjad Rasjid, tindakan nyata melawan tantangan global yang berujung pada ancaman kehidupan, telah memengaruhi semua orang tanpa memandang ras, agama, keyakinan, kelompok, maupun organisasi. 

Dalam arti yang paling mendasar, tindakan nyata tersebut justru datang dari nilai-nilai agama yang menggerakan setiap penganutnya untuk mendorong terciptanya ekonomi yang inklusif, menjaga perilaku ekonomi tetap terkendali, dan bersama-sama melawan tantangan global saat ini.

“Berbicara tentang pemulihan dunia dari ancaman perubahan iklim merupakan dialog lintas agama. Kita dipanggil kepada planet yang tanpa batas, untuk bekerja bersama-sama memulihkan dunia," kata Arsjad Rasjid, Jumat (4/11/2022).

Baca juga: Ketua Umum Kadin: Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun Ini Diperkirakan Melambat Menjadi 2,9 Persen

"Perubahan iklim adalah dialog lintas agama yang penting karena didasarkan pada iman kita yang mewajibkan kita untuk merawat bumi, menciptakan kesejahteraan, menjamin tatanan hidup yang layak bagi generasi selanjutnya,” sambungnya.

Arsjad Rasjid lebih jauh menjelaskan, bahwa perdamaian menjadi persyaratan mutlak untuk segala sesuatu, yang berakar pada ajaran untuk berbuat baik dari semua agama dan keyakinan. 

Kesejahteraan berkontribusi pada perdamaian karena mengakhiri kesenjangan sosial dan meminimalisir konflik. 

Sementara itu, masyarakat adalah subjek dari pengembangan ekonomi, tanpa ada yang ditinggalkan, dan memastikan bahwa bumi tetap dijaga, dirawat, dilestarikan untuk generasi selanjutnya. 

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas