Tribun

Kain Tenun Ikat Sumba NTT Warisan Leluhur yang Patut Dijaga

Hilmar Farid mengatakan Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki warisan leluhur yang patut dijaga, yakni kain tenun ikat Sumba.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kain Tenun Ikat Sumba NTT Warisan Leluhur yang Patut Dijaga
Istimewa
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menghadiri Festival Tenun Nusantara. Hilmar Farid mengatakan Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki warisan leluhur yang patut dijaga, yakni kain tenun ikat Sumba. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki warisan leluhur yang patut dijaga, yakni kain tenun ikat Sumba.

Kemendikbudristek menggelar Festival Tenun Nusantara untuk memperkenalkan kain tenun ikat Sumba bersama warisan wastra nusantara lainnya.

"Ini kegiatan mengangkat kembali tradisi wastra Nusantara khususnya tenun Sumba dan itu adalah karya yang luar biasa, di sini hadir para maestro datang jauh dari Sumba," kata Hilmar melalui keterangan tertulis, Sabtu (3/12/2022).

Kain tenun ikat Sumba, menurut Hilmar, adalah salah satu bentuk dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Provinsi NTT.

Baca juga: Rupa Tenun Sikka, Warsa Indonesia yang Bisa Jadi Busana Harian

Tenun ikat ini merupakan kain nusantara nan eksotis yang diciptakan oleh para seniman tenun dari Sumba Timur.

Kain tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan secara sembarangan, yang mengerjakannya pun bukanlah sembarang orang.

"Kegiatan ini mengangkat kembali wastra Nusantara Karya yang luar biasa," ucap Hilmar.

"Ke depan kita selalu terbuka, utamanya yang penting harus jelas dulu kelestarian apa yang akan dimunculkan dan juga harus kuat," tambah Hilmar.

Seperti diketahui, kegiatan yang berlangsung pada 30 November hingga 1 Desember di Kawasan Candi Borobudur itu digelar beberapa kegiatan, di antaranya fashion show dari hasil karya perancang terkenal Edward Hutabarat, diskusi, serta menghadirkan secara langsung mastro atau perajin dari Sumba.

Adapun tema yang diangkat, yaitu "Menjaga Tradisi untuk Bumi Lestari”, bertujuan untuk mengkampanyekan hasil kaya tanah tenun nusantara.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas