Tribun

Mengenal Hanjeli Pangan Pengganti Beras yang Belum Dilirik Petani

Retno Sri Endah Lestari mengatakan, hanjeli adalah tanaman jenis serealia yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan.

Editor: Adi Suhendi
zoom-in Mengenal Hanjeli Pangan Pengganti Beras yang Belum Dilirik Petani
Dokumentasi Humas IPB University/ Tribunnewsbogor
Hanjeli (Coix lacryma-Jobi L.) atau yang biasa dikenal dengan sebutan jalia atau jali-jali merupakan salah satu tanaman yang berpotensi menjadi bahan pangan alternatif pengganti beras. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tanaman hanjeli atau jali-jali meski belum populer namun menyimpan banyak manfaat.

Kandungan protein yang dimiliki hanjeli lebih banyak ketimbang beras dan jagung.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), Retno Sri Endah Lestari mengatakan, hanjeli adalah tanaman jenis serealia yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan.

Tanaman yang berasal dari Asia Timur ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya, baik terhadap suhu maupun kondisi tanah yang kurang subur.

“Hanjeli bisa tahan terhadap suhu yang dingin, tanah yang asam, dan tanah yang kurang subur. Karena spesifikasi ini seharusnya hanjeli bisa dijadikan sebagai tanaman pangan alternatif,” kata Retno dalam acara dalam pernyataannya yang diterima Tribun, Senin(5/12/2022).

Baca juga: UI-Kemenparekraf Salurkan Peralatan K3 dan Kebencanaan ke Desa Wisata Hanjeli Sukabumi

Retno menyebut hanjeli sudah mulai dibudidayakan di Jatinangor, Sumedang, Sukabumi, Cirebon, dan Indramayu.

"Tapi dari laporan yang saya terima, kebanyakan masih dibudidayakan bersama-sama dengan tanaman lain. Belum monokultur,” kata Retno.

Guru Besar Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung, Warid Ali Qosim, menambahkan, sampai saat ini peneliti masih melakukan eksperimen untuk menemukan benih hanjeli terbaik.

Baca juga: Petani Siap-siap, Sensus Pertanian Mulai 1 Mei 2023

“Pada dasarnya tanaman ini sudah baik, tapi tetap harus kita cari formulasi terbaik supaya bisa diambil manfaatnya secara maksimal. Karena setelah diuji coba ternyata memang ada kelemahannya,” kata Warid.

Diungkapkannya, beberapa kelemahan hanjeli yang masih harus dicari solusinya antara lain daya hasil rendah, dan umur tanamnya yang cukup panjang.

“Karena umurnya yang panjang, sampai lima bulan, jadi petani mungkin kurang tertarik menanam karena hal ini,” pungkasnya. (Willy Widianto)

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas