Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Apa Itu Bulan Bung Karno? Dilakukan Setiap Bulan Juni untuk Peringati Ir Soekarno

Berikut ini penjelasan mengenai peringatan Bulan Bung Karno. Bulan Bung Karno ini selalu diperingati setiap bulan Juni.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Nuryanti
zoom-in Apa Itu Bulan Bung Karno? Dilakukan Setiap Bulan Juni untuk Peringati Ir Soekarno
ISTIMEWA
Ir Soekarno - Inilah penjelasan mengenai peringatan Bulan Bung Karno yang diperingati setiap bulan Juni. 

TRIBUNNEWS.COM - Bulan Juni di tiap tahunnya diperingati sebagai Bulan Bung Karno.

Hal tersebut dikarenakan di bulan Juni, terdapat beberapa momen yang melibatkan sang Proklamator.

Di antaranya Kelahiran Pancasila, lahirnya Ir Soekarno, dan wafatnya Bung Karno.

Maka dari itu, setiap bulan Juni selalu diperingati Bulan Bung Karno.

Berikut Tribunnews.com rangkum setiap momen yang berkaitan dengan Ir Soekarno, sehingga ada peringatan Bulan Bung Karno:

Baca juga: Puncak Perayaan Bulan Bung Karno 2023, Aplikasi Ganjaran App Diluncurkan

Hari Lahir Pancasila (1 Juni)

Tanggal 1 Juni adalah peringatan Hari Lahir Pancasila.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemilihan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dikarenakan bertepatan saat sidang BPUPKI.

Dalam sidang BPUPKI tersebut, Ir Soekarno dalam pidatonya yang bertajuk "Lahirnya Pancasila" berkesempatan menyampaikan gagasan mengenai konsep awal Pancasila.

Dikutip dari laman resmi Kemenkeu, pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul.

Baca juga: Tari Reog, Penampilan Angklung hingga Senam Sicita Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Setelah itu, Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Bung Karno sebagai "Lahirnya Pancasila" dalam kata pengantar buku yang berisi pidato itu.

Dalam pidatonya, Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia yang dinamai Pancasila.

Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni Sila pertama "Kebangsaan", sila kedua "Internasionalisme atau Perikemanusiaan", sila ketiga
"Demokrasi", sila keempat "Keadilan sosial", dan sila kelima "Ketuhanan yang Maha Esa".

Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut, maka BPUPKI membentuk sebuah panitia yang disebut sebagai panitia Sembilan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas