Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

3 Krisis Keuangan yang Pernah Dialami Indonesia Menurut Kemenkeu

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, mengungkapkan terdapat tiga krisis keuangan yang pernah dialami Indonesia.

Penulis: Widya Lisfianti
Editor: Pravitri Retno W
zoom-in 3 Krisis Keuangan yang Pernah Dialami Indonesia Menurut Kemenkeu
Freepik
(ILUSTRASI) Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, mengungkapkan terdapat tiga krisis keuangan yang pernah dialami Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, mengungkapkan perlu bagi para profesi di bidang keuangan untuk belajar memahami krisis keuangan.

Hal ini disampaikan Sri Mulyani saat membuka Profesi Keuangan Expo 2023 di Dhanapala Jakarta, Selasa (25/07/2023).

"Banyak generasi muda milenial yang mungkin tidak, atau kurang familiar dengan apa itu krisis keuangan, baik di Indonesia maupun di dunia."

"Padahal namanya dua kata, krisis keuangan berarti ada something wrong dengan keuangan yang menimbulkan krisis," ujar Sri Mulyani, Selasa, dikutip dari situs resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Lebih lanjut, Sri Mulyani membeberkan tiga krisis keuangan yang pernah dialami oleh Indonesia.

Baca juga: Curhat Sri Mulyani Sering Cuci Piring Ketika Terjadi Krisis Keuangan

Pertama, adalah krisis keuangan tahun 1997-1998 yang menjadi tonggak sejarah perekonomian.

Dikutip dari laman Universitas Bina Nusantara, penyebab dari krisis ini salah satunya karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar karena nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting.

BERITA REKOMENDASI

Lalu, krisis kedua terjadi pada 2008-2009 yang berdampak pada dibentuknya banyak regulasi dan praktik di bidang profesi keuangan

Dikutip dari jurnal Krisis Keuangan Global 2008-2009 dan Implikasinya pada Perekonomian Indonesia yang diterbitkan Institut Pertanian Bogor (IPB), krisis keuangan ini diawali dengan terjadinya subprime mortgage di Amerika Serikat.

Hal itu ternyata berimbas ke krisis sektor finansial yang lebih dalam.

Kondisi ini ternyata semakin memburuk, meluas, dan berkepanjangan.

Tidak hanya dirasakan oleh perekonomian Amerika Serikat, tetapi juga dirasakan di berbagai negara termasuk Indonesia.

Terakhir adalah krisis pandemi yang berlangsung dari tahun 2020-2022.

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari perubahan rantai pasok dunia hingga penurunan investasi asing ke Indonesia.

Masih dikutip dari laman Kemenkeu, penurunan tersebut dapat dilihat melalui perlambatan pertumbuhan ekonomi yang turun dari 5,02 persen di tahun 2019 menjadi 2,97 persen pada tahun 2020.

"Krisis, krisis, krisis. Yang satu langsung krisis perbankan keuangan di Indonesia dan Asia tenggara."

"Yang kedua krisis keuangan global. Yang ketiga krisis kesehatan pandemi tapi dimensinya keuangan," jelasnya.

Terkait krisis pandemi, Sri Mulyani menambahkan para profesional dan generasi muda yang ada di bidang keuangan untuk memahami dan mempelajari konsekuensi logis dari adanya krisis kesehatan menjadi krisis keuangan.

Hal ini karena menurutnya kejadian pandemi Covid-19 yang lalu bukanlah yang terakhir, adanya kemungkinan pandemi di depan yang perlu diantisipasi guna menentukan langkah dari sektor keuangan yang harus dilakukan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang bisa belajar dari krisis.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang bisa belajar dari krisis. (HANDOUT)

Baca juga: Ingatkan Bahayanya Profesi Keuangan Jika Tidak Kompeten, Sri Mulyani Sampai Berkata Bodoh

"Generasi ke depan kalau menghadapi mereka tidak perlu mulai dari nol lagi. Pernah terjadi been there happening and kita sudah bisa menyampaikan," tandas Menkeu.

Selain itu, Menkeu juga menyampaikan adanya isu lain di sektor keuangan.

Yakni syok dari isu perubahan iklim, dimana sektor keuangan akan menjadi penjuru penting.

Sehingga, Menkeu berharap profesi keuangan bisa memahami risiko dari isu tersebut.

"Pahami risiko dari perubahan iklim. Dampaknya sangat besar."

"Asset value bisa drop, asset value bisa naik, karena perubahan iklim. Risiko bisa 0 dan 1,” pungkasnya.

(Tribunnews.com, Widya)

Sumber: TribunSolo.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas