Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

9 Tips Hadapi Cuaca Panas Akibat Peralihan Musim Hujan ke Musim Kemarau

Inilah tips menghadapi cuaca panas yang belakang ini melanda sebagian besar wilayah Indonesia, akibat peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in 9 Tips Hadapi Cuaca Panas Akibat Peralihan Musim Hujan ke Musim Kemarau
Tribunnews/JEPRIMA
Pekerja melindungi tubuh dari terik matahari menggunakan payung saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta - Inilah tips menghadapi cuaca panas yang belakang ini melanda sebagian besar wilayah Indonesia, akibat peralihan musim hujan ke musim kemarau. 

Jangan meninggalkan siapapun di dalam kendaraan dalam kondisi parkir.

Baik dengan jendela terbuka maupun tertutup.

7. Pakai Kipas Angin dan Pendingin

Selain memaik AC dan kipas angin, sediakan botol semprot air yang dingin di dalam kendaraan.

8. Pakai Suncreen SPF 30+ atau Sunblock

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir efek dari paparan sinar UV
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir efek dari paparan sinar UV (Well+Good)

Gunakan sunscreen minimal 30 SPF pada kulit yg tidak tertutup oleh baju sebelum keluar rumah

9. Hindari minuman berkafein, minuman berenergi, alkohol, dan minuman manis.

Sebab minuman tersebut dapat menyebabkan mudah haus.

Penjelasan BMKG Soal Penyebab Cuaca Panas

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa cuaca panas yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini bukanlah akibat gelombang panas atau heatwave.

Berdasarkan karakteristik dan indikator statistik pengamatan suhu yang dilakukan BMKG.

Rekomendasi Untuk Anda

Fenomena cuaca panas tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas.

Lebih lanjut Dwikorita menerangkan, kondisi maritim di sekitar Indonesia dengan laut yang hangat dan topografi pegunungan mengakibatkan naiknya gerakan udara.

Sehingga dimungkinkan terjadinya penyanggaan atau buffer kenaikan temperatur secara ekstrem dengan terjadi banyak hujan yang mendinginkan permukaan secara periodik.

Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadinya gelombang panas di wilayah Kepulauan Indonesia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/3/2024).
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/3/2024). (Tribunnews.com/ Chaerul Umam)

Menurut Dwikorita, suhu panas yang terjadi adalah akibat dari pemanasan permukaan sebagai dampak dari mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan.

Sama halnya dengan kondisi "gerah" yang dirasakan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Hal tersebut juga merupakan sesuatu yang umum terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim kemarau, sebagai kombinasi dampak pemanasan permukaan dan kelembaban yang masih relatif tinggi pada periode peralihan ini.

Dari pantauan BMKG pada bulan Mei 2024 beberapa wilayah yang akan memasuki musim kemarau.

Seperti sebagian Nusa Tenggara, sebagian pulauJawa, sebagian pulau Sumatera, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, serta Papua bagian timur dan selatan.

(Tribunnews.com/M Alvian Fakka)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas