Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Orang Muda dan Aksinya untuk Kurangi Dampak Perubahan Iklim

Fikri bersama komunitas Ekoenzim Nusantara, memanfaatkan sampah minyak jelantah untuk diolah dan dimanfaatkan menjadi lilin dan sabun.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Orang Muda dan Aksinya untuk Kurangi Dampak Perubahan Iklim
Tribunnews.com/ Rina
ANAK MUDA DAN AKSI IKLIM. Fikri dan Siti, pemuda yang punya kepedulian untuk menjaga lingkungan. Berbekal pengetahuan dan pengalaman keduanya berani menyuarakan keprihatinan dan solusi mereka terhadap lingkungan. Keduanya merupakan peserta Glow Ambassador yang mengikuti National Youth Capacity Enhancement (NYCE) di Bekasi, Selasa (17/6/2025) yang digelar ChildFund. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Perubahan iklim makin nyata dirasakan anak muda.

Hutan yang gundul, pola cuaca yang kian ekstrem, polusi udara, kenaikan permukaan air hingga sampah yang menggunung menjadi ancaman bagi kesejahteraan anak dan pemuda di masa depan.

Fikri (20) pemuda asal Semarang mengungkapkan, sejak pandemi covid-19 lalu, jumlah sampah rumah tangga terus meningkat.

Sampah seperti minyak jelantah yang tidak diolah dengan baik, bisa berdampak pada lingkungan serta kesehatan.

“Krisis di lingkungan ini benar-benar nyata. Bukan saat  ini dirasakan tapi nanti setelah dewasa dampaknya,” tutur dia  dalam kegiatan National Youth Capacity Enhancement (NYCE) di Bekasi, Selasa (17/6/2025).

Karena tertarik mengolah sampah rumah tangga, ia lalu bergabung dengan komunitas eco enzim.

Rekomendasi Untuk Anda

Fikri bersama komunitas Ekoenzim Nusantara ini memanfaatkan sampah minyak jelantah untuk diolah dan dimanfaatkan menjadi lilin dan sabun.

“Saya ingin lebih banyak lagi anak muda yang bergerak bersama, memahami dan bergerak bahwa bumi kita sedang tidak baik,” kata Fikri.

Kepedulian terkait alam juga diungkapkan oleh Siti (22) anak muda asal Bogor.

Ia yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa teknologi informasi ini  membuat sebuah website bank digital.

Sebuah sistem yang menghubungkan penghasil limbah dengan pengolah limbah

“Warga datang menyetor sampah nanti diberi uang. Di website itu ada jadwal penjemputan sampah berupa botol, kertas atau besi. Kalau sudah capai poin nanti bisa ditukar dengan reward,” ucap Siti.

Siti berharap upaya kecilnya ini menjadi inspirasi bagi anak muda lain untuk menjaga alam dari kerusakan.

Saat ini website yang dikembangkan ini sudah bisa diakses di lingkungan rumah dan kampusnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas