Gibran Bahas Greenflation: Pernah Ramai Waktu Debat Pilpres, Banyak yang Meremehkan
Wapres Gibran Rakabuming Raka kembali menyinggung greenflation saat menghadiri forum Green Impact Festival.
Penulis:
Taufik Ismail
Editor:
Febri Prasetyo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menyinggung greenflation atau inflasi yang dipicu oleh transisi energi hijau saat menghadiri forum Green Impact Festival di Jakarta Theater, Jakarta, Kamis, (24/7/2025).
Menurut Gibran, isu yang pertama dia angkat pada saat debat pilpres tahun lalu tersebut banyak yang meremehkan.
"Coba kita ke slide greenflation ini pernah rame pada waktu debat pilpres. Ada yang bingung, ada yang meremehkan, ada yang bilang ini enggak penting," kata Gibran saat berbicara dalam forum tersebut.
Menurut Gibran, greenflation sangat penting sekali untuk dibahas karena merupakan salah satu tantangan ke depan yang harus dihadapi. Jangan sampai, kata dia, transisi menuju energi hijau yang terlalu gegabah justru menimbulkan masalah.
"Jadi ini teman-teman, kalau kita lihat di negara-negara besar, ya saya enggak tahu ya, mungkin terlalu ambisius, terlalu bersemangat, terjadi yang namanya inflasi karena transisi ke energi hijau yang terlalu gegabah," katanya.
Menurut Gibran, jangan sampai transisi ke energi hijau yang terlalu terburu buru memberikan dampak kepada industri dan rakyat kecil. Oleh karena itu, pemerintah mengedepankan sikap kehati-hatian dalam transisi menuju energi hijau.
"Makanya ke depan kita harus hati-hati, jangan sampai masyarakat, rakyat kecil, industri kecil terdampak karena hal-hal seperti ini. Jadi kalau di negara yang tidak perlu saya sebut ini, ada demo karena pajak BBM naik, gas naik, listrik naik, kita enggak ingin seperti itu. Kita tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," katanya.
Indonesia disebut masih jauh dari greenflation
Ahmad Heri Firdaus, peneliti INDEF bidang industri, perdagangan, dan investasi, menjelaskan, greenflation merujuk pada kenaikan harga barang karena peningkatan permintaan produk ramah lingkungan.
INDEF atau Institute for Development of Economics and Finance adalah lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada bulan Agustus 1995 di Jakarta.
"Jadi, terjadi kenaikan harga barang karena misalnya baterai motor listrik semakin banyak permintaannya, maka harganya semakin naik," kata Heri dalam acara diskusi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (25/1/2024).
Baca juga: Disebut Gibran Saat Debat Cawapres, Greenflation Dinilai Ekonom Masih Jadi Isu Jauh Bagi Indonesia
"Kan terjadi hukum demand supply. Kalau permintaan meningkat, harga meningkat. Begitu juga dengan produk-produk ramah lingkungan laninya, produk yang mengedepankan ekonomi hijau, sehingga terjadi istilahnya greenflation," lanjutnya.
Namun, menurut Heri, Indonesia masih jauh dari greenflation tersebut, berbeda dengan Eropa yang transformasi energinya sudah cukup masif.
"Kalau untuk Indonesia ini saya rasa masih jauh karena isu ini di Eropa maraknya ketika terjadi transformasi energi secara besar-besaran dan sudah cukup masif, maka terjadi pergeseran inflasi yang produk-produk ramah lingkungan ini meningkat (harganya)," ujar Heri.
Heri mengatakan greenflation itu baru benar-benar bisa terjadi kalau proses transisi energi ini sudah masif.
Selain itu, greenflation dapat terjadi jika transisi energi sudah konsisten dan sudah memiliki porsi tersendiri dalam produk domestik bruto (PDB) RI.
"Sementara saat ini belum, tapi memang tetap perlu diantisipasi kenaikan harga di produk-produk ramah lingkungan tersebut," katanya.