3 Penyakit Pascabanjir dan Cara Pencegahannya
Selain kerugian materi, banjir juga membawa ancaman lain yang sering terlupakan: munculnya penyakit pascabanjir.
Penulis:
Widya Lisfianti
Editor:
Febri Prasetyo
TRIBUNNEWS.COM - Hujan deras yang mengguyur Provinsi Bali beberapa hari terakhir memicu banjir di sejumlah daerah.
Ribuan warga terdampak dan sebagian harus mengungsi.
Selain mendatangkan kerugian materi, banjir juga membawa ancaman lain yang sering terlupakan: munculnya penyakit pascabanjir.
Banjir membuat air bersih tercemar, sampah menumpuk, dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk serta tikus berkembang biak. Di pengungsian, kondisi kebersihan sering kurang terjaga dan makanan serta air bersih terbatas.
Semua faktor ini membuat daya tahan tubuh melemah sehingga penyakit lebih mudah menular.
Dikutip dari laman menlhk.go.id, penyakit pascabanjir adalah sejumlah penyakit yang meningkat kasusnya setelah terjadi banjir.
Tulisan ini berasal dari Ari Fahrial Syam, dokter dan Ketua PAPDI Jaya, yang dirilis di laman Menlhk pada 2014.
Menurut Ari Fahrial Syam, penyakit pascabanjir terbagi dalam tiga kelompok.
1. Penyakit dari makanan dan air kotor
Termasuk kolera, disentri, rotavirus, dan demam tifoid. Gejalanya bisa muntah, diare, atau buang air besar berdarah.
2. Penyakit dari nyamuk
Baca juga: Prihatin Banjir Bali, Luna Maya: Please Stop Eksploitasi
Paling umum adalah demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Genangan air setelah banjir membuat populasi nyamuk meningkat dan memicu wabah.
3. Penyakit dari tikus
Contohnya leptospirosis, yang menular lewat urine atau kotoran tikus di air banjir.
Orang yang punya luka terbuka atau terkena cipratan air terkontaminasi bisa tertular.
Bahaya Leptospirosis
Gejalanya antara lain demam tinggi, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot terutama di betis, mata merah, dan kulit serta mata menguning.
Urin pasien juga bisa berwarna gelap.
Baca tanpa iklan