Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengamat Nilai Polri Berada di Garis Depan saat Tragedi Demo Ricuh Agustus 2025

Haidar menilai bangsa Indonesia seringkali abai pada hal paling mendasar dalam perjalanan sejarahnya. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Pengamat Nilai Polri Berada di Garis Depan saat Tragedi Demo Ricuh Agustus 2025
istimewa
KEPERCAYAAN MASYARAKAT - Pendiri Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi. ia menilai bangsa Indonesia seringkali abai pada hal paling mendasar dalam perjalanan sejarahnya.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Kebangsaan R. Haidar Alwi memberikan pandangan soal tragedi demo ricuh Agustus 2025.

Haidar Alwi adalah pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), seorang pengamat kebijakan publik, pengusaha, dan teknokrat. 

Dia adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. 

Haidar dikenal vokal menyoroti isu-isu nasional.

Baca juga: Boni Hargens: Tim Transformasi Polri Bukan Tandingan Melainkan Bukti Inklusivitas Reformasi

Menurutnya, tragedi demo ricuh kemarin menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia.

"Tragedi Agustus 2025 adalah salah satu ujian paling berat, di mana riak yang dipancarkan hampir berubah menjadi gelombang besar yang dapat mengguncang legitimasi pemerintahan Presiden Prabowo," ucap Haidar dalam keterangan Minggu (28/9/2025).
 
Namun demikian, Haidar menilai bangsa Indonesia seringkali abai pada hal paling mendasar dalam perjalanan sejarahnya. 

Siapa yang benar-benar menjaga agar rumah besar bernama Indonesia tetap berdiri kokoh ketika badai datang.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pada saat krusial itulah Polri berdiri di garis depan, membendung arus kekacauan, menjaga agar api kemarahan tidak membakar habis fondasi negara, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan tanpa kehilangan kendali," jelasnya.

Ironinya, bangsa ini justru melupakannya dan memilih narasi sempit yang mereduksi peran Polri menjadi sekadar gagal dikarenakan ada nyawa melayang.

Tak ada yang menafikan bahwa tewasnya seorang pengemudi ojek online adalah luka. 

Peristiwa itu tidak seharusnya terjadi.

"Tetapi apakah sebuah institusi yang menahan keruntuhan negara layak dihakimi hanya dari satu titik peristiwa, sementara ratusan titik berhasil dalam meredam amuk massa diabaikan begitu saja?" papar Haidar.

Dia berpandangan tak adil saat ribuan anggota Polri berjaga siang-malam, menghadang provokator hingga mempertaruhkan nyawa.

Akan tetapi disapu bersih oleh satu narasi bahwa mereka gagal.

"Di tengah kompleksitas tragedi yang melibatkan dugaan intervensi pihak eksternal, Polri justru dijadikan kambing hitam seolah-olah mereka penyebab, bukan penyelamat," tuturnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas