Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Marak Kasus Keracunan MBG, Pengamat: 1 Manusia Sangat Berharga, Jangan Dihitung Secara Kuantitatif

Pakar komunikasi politik sekaligus komunikolog Emrus Sihombing menyoroti maraknya kasus keracunan menu program makan bergizi gratis (MBG).

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Marak Kasus Keracunan MBG, Pengamat: 1 Manusia Sangat Berharga, Jangan Dihitung Secara Kuantitatif
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
MBG - Sejumlah pelajar menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) saat launching program MBG di Perguruan Muhammadiyah Antapani, Jalan Kadipaten Raya, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (25/8/2025). Pakar komunikasi politik sekaligus komunikolog Emrus Sihombing menyoroti maraknya kasus keracunan menu program MBG. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM - Pakar komunikasi politik sekaligus komunikolog Emrus Sihombing menyoroti maraknya kasus keracunan menu program makan bergizi gratis (MBG).

Per September 2025, sudah ribuan orang yang menjadi korban keracunan MBG.

Menurut Emrus, kasus keracunan ini akan memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pasalnya, sebagai program unggulan, seharusnya program MBG dilaksanakan dengan baik dan terencana karena ini menyangkut dengan kemanusiaan.

"Oleh karena itu, harus zero accident (nihil keracunan). Tetapi apa yang terjadi? Sangat memilukan."

"Bahkan ada pandangan yang mengatakan bahwa dari sekian juta penerima makanan bergizi gratis yang kena keracunan itu sekitar 5.000 lebih, misalnya hanya sekian persen dan sangat kecil dari sudut persentase," ucap Emrus Sihombing dalam acara On Focus di YouTube Tribunnews, Senin (29/9/2025).

Ia setuju bahwa dari segi persentase, jumlah korban keracunan tak signifikan jika dibandingkan jumlah penerima MBG.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, Emrus mengingatkan tentang sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.

"Kemanusiaan yang kita garis bawahi. Oleh karena itu, satu orang tidak boleh terjadi keracunan tersebut. Karena satu manusia sangat berharga. Jadi tidak boleh dihitung secara kuantitatif hanya sekian persen atau tidak signifikan," tegasnya.

Ia menekankan bahwa angka statistik semacam itu tak bisa digunakan ketika berdampak kepada manusia.

Emrus mengatakan bahwa satu manusia sangat berharga dan satu manusia bisa melakukan perubahan sosial.

Baca juga: Polemik MBG, di Boyolali Diduga Ada Sabotase hingga Menu Ditarik, di Lebak Dapur Tidak Higienis

"Kita ambil contoh sederhana. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hanya satu orang toh, tidak dua orang. Tetapi di bawah kepemimpinan beliau, bangsa ini bisa mempunyai harapan besar." 

"Jadi, manusia adalah berharga, tidak boleh dikuantifisir. (red: dikuantifikasi) Artinya, mau saya katakan manusia harus dilihat secara kualitatif," ungkapnya.

Oleh karena itu, sambungnya, Badan Gizi Nasional (BGN) harus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

"Mengapa bisa terjadi (keracunan) seperti itu? Maka dilakukanlah perbaikan-perbaikan," ucapnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas