BMKG: Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Indonesia Sepekan ke Depan
Menurut hasil pengamatan BMKG, dalam beberapa hari terakhir tercatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem.
Penulis:
Farrah Putri Affifah
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Kondisi atmosfer lokal yang cukup labil mendukung terjadinya awan konvektif yang memicu hujan lebat
- BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat di Jawa Barat, Bali hingga Jambi
- BMKG juga menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem
TRIBUNNEWS.COM - Memasuki masa peralihan musim, kondisi atmosfer di Indonesia menjadi relatif tidak stabil, yang berpotensi memicu peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah.
Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam beberapa hari terakhir tercatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem.
Seperti di Cilacap, Jawa Tengah (343,2 mm/hari), Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (111,1 mm/hari), dan Sabang, Aceh (97.8 mm/hari).
Curah hujan tinggi ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di daerah-daerah tersebut.
Aktivitas sirkulasi siklonik yang masih aktif di bagian utara dan barat Indonesia menyebabkan terbentuknya zona perlambatan angin dan pertemuan angin (konvergensi dan konfluensi), dikutip dari laman bmkg.go.id.
Sehingga ini meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.
Ditambah lagi, gelombang atmosfer seperti Rossby dan Kelvin yang sedang aktif turut berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan di wilayah Sumatera, Papua, serta bagian Kalimantan dan Sulawesi.
Kondisi atmosfer lokal yang cukup labil juga mendukung terjadinya awan konvektif yang memicu hujan lebat.
Dengan kondisi tersebut yang diperkirakan berlangsung hingga sepekan ke depan, BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang di beberapa wilayah Indonesia.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi dan melakukan langkah antisipasi, seperti menjaga kebersihan saluran drainase dan selalu memantau informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG.
Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Jawa Tengah Hari Ini Selasa 14 Oktober 2025: Blora Hujan, Semarang Hujan Petir
Faktor Penyebab Dinamika Cuaca
Fenomena global seperti nilai Dipole Mode Index (DMI) yang negatif (−1.49) meningkatkan suplai uap air, mendukung pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia.
Gelombang Rossby Ekuator yang aktif di Samudra Hindia barat Sumatera dan sebagian besar wilayah Papua juga meningkatkan pertumbuhan awan hujan, begitu pula gelombang Kelvin yang aktif di wilayah Sumatera Utara, Selat Malaka, Kalimantan Utara, dan Laut Sulawesi.
Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik aktif di Samudra Hindia barat Aceh, Laut Sulu, Laut Filipina, dan Samudra Pasifik timur Filipina menciptakan daerah perlambatan angin dan konvergensi yang memperkuat potensi hujan.
Intrusi udara kering dari barat daya Samudra Hindia selatan Jawa hingga selatan Nusa Tenggara Timur menyebabkan kondisi udara menjadi lebih hangat dan lembab di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
Labilitas atmosfer lokal yang kuat di berbagai wilayah juga mendukung pembentukan awan hujan konvektif.
Baca tanpa iklan