Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Mulut yang Mengetik, Internet yang Merangkul,  Menuju Ruang Maya Ramah Anak Berkebutuhan Khusus

Di ruang kelas yang dipenuhi keterbatasan fisik, internet dan teknologi justru menjadi "anggota tubuh" baru, pemulih kemandirian

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mulut yang Mengetik, Internet yang Merangkul,  Menuju Ruang Maya Ramah Anak Berkebutuhan Khusus
TribunSolo.com/Chrysnha Pradipha
Amel, siswa YPAC Surakarta dengan keterbatasan belajar daring di rumah 

dr. Siti menjelaskan bahwa ruang digital punya dua wajah bagi psikis anak. Di sisi positif, penggunaan moderat bisa mempercepat pembelajaran, stimulasi kognitif, analitik, dan kreativitas. 

Media sosial memfasilitasi interaksi, memperluas pertemanan, dan menguatkan ekspresi emosi dalam konteks sehat. 

Anak terhubung daring dapatkan dukungan sosial, akses info pendidikan, dan kompetensi digital esensial. 

"Ini seperti jembatan sosial bagi anak yang sulit berinteraksi tatap muka," katanya pada Rabu (8/10/2025).

Namun, sisi negatifnya lebih mengkhawatirkan, terutama bagi ABK yang rentan. 

Paparan berlebih media sosial hubungkan dengan depresi, kecemasan, turunnya harga diri, dan gangguan tidur. Tanpa pendampingan, risiko cyberbullying, isolasi, agresi, rasa tidak aman, hingga kecanduan layar melonjak. 

Banyak waktu di depan layar kurangi aktivitas fisik dan interaksi nyata, pengaruh keseimbangan psikis, turunkan empati, dan komunikasi tatap muka. 

Rekomendasi Untuk Anda

Data survei kesehatan mental remaja Indonesia 2022 tunjukkan 34,9 persen remaja alami masalah, dan tren 2025 serupa: sekitar 20 persen anak korban dampak digital, seperti kecanduan yang picu tantrum atau isolasi. WHO memperkirakan, 1 dari 7 anak usia 10-19 tahun berjuang dengan ini.

Di praktik sehari-hari, dr. Siti menjumpai kasus nyata yang pilu. 

Di poli RSUD Dr. Moewardi, hampir setiap hari ada anak datang dengan keluhan perubahan perilaku, bukan adiksi internet langsung, tapi faktor layar berlebih yang bisa ditelusuri kemudian. 

"Banyak yang belum terdiagnosis, tapi ganggu aktivitas harian," ujarnya. 

Ia mencontohkan, seorang gadis 9 tahun di RS Y, korban video call tak senonoh dari teman online, didiagnosis gangguan stres akut. 

Ia menyendiri, tolak sekolah, merasa "kotor" dan minta maaf berulang ke orang tua, sembuh setelah dua minggu terapi, tapi trauma abadi. 

Di RS Z, banyak anak menunjukkan perubahan akibat penggunaan HP berlebih, sering tak disadari orang tua yang kasih gadget untuk "alihkan perhatian" saat sibuk sendiri.

Perbedaan penanganan SLB vs. sekolah reguler menurutnya mencolok, tambah dr. Siti. 

Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas