Akademisi Udayana: Setahun Pemerintahan Prabowo Beri Efek Kejut ke Oligarki
Efek kejut tersebut juga berhasil diarahkan padapraktik-praktik normalisasi pelanggaran hukum oleh para pemodal besar
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Erik S
Akademisi: Setahun Pemerintahan Prabowo Berhasil Beri Efek Kejut ke Oligarki
Ringkasan Berita:
- Pemerintahan Prabowo disebut berhasil memberikan efek kejut kepada mafia tambang
- Prabowo telah menciptakan tata bahasa baru dalam hubungan negara dan para pemodal besar
- Polri, Kejaksaan, TNI, dan kementerian teknis kini bergerak seperti satu tubuh
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai berhasil memberikan efek kejut atau shock therapy kepada oligarki dan mafia tambang penghisap sumber daya alam Indonesia.
Efek kejut tersebut juga berhasil diarahkan padapraktik-praktik normalisasi pelanggaran hukum oleh para pemodal besar dalam praktik-praktik bisnisnya selama ini.
Pendapat tersebut disampaikan analis politik dan akademisi FISIP Universitas Udayana, Bali, Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menanggapi satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Tahun Pertama Prabowo dan Kebangkitan Kedaulatan
Efatha berpendapat, Prabowo berhasil membawa perubahan mendasar dalam cara negara menegakkan kekuasaan. Ia menyebut, Prabowo telah menciptakan 'grammar baru kekuasaan' atau tata bahasa baru dalam hubungan negara dan para pemodal besar.
“Selama ini kita sibuk menghitung berapa triliun aset koruptor yang disita. Padahal, angka-angka itu hanya gejala. Bukan penyakitnya,” kata Efatha dikutip Sabtu (18/10/2025).
Efek Kejut ke Mafia Tambang
Menurutnya, keberhasilan terbesar pemerintahan Prabowo bukan pada besarnya aset sitaan, tapi pada efek kejut (shock therapy) yang membuat para oligarki dan mafia sumber daya kini berhitung ulang.
“Dulu, menambang mineral sacara ilegal atau membabat hutan bukan kejahatan, tapi model bisnis. Sekarang logika itu dibalik total. Negara mengirim pesan tegas, dimana era negosiasi sudah selesai,” beber Efatha.
Efatha menilai keberhasilan ini terjadi karena adanya sinergi nyata antar-lembaga negara yang belum pernah seefektif ini sebelumnya.
“Polri, Kejaksaan, TNI, dan kementerian teknis kini bergerak seperti satu tubuh. Ini bukan sinergi rapat, tapi sinergi lapangan,” ujarnya.
Ia menyebut model ini berhasil karena komando pemerintahan terpusat di Presiden. Ego sektoral berhasil dipatahkan, arah kebijakan menjadi tunggal, dan koordinasi berjalan presisi.
Baca juga: Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Menhan: Beliau Tak Punya Tanggal Merah, Selalu Pikir Rakyat
Namun, Efatha mengingatkan agar efektivitas model ini tidak bergantung pada figur tunggal.
“Tantangannya sekarang adalah evolusi dari figur ke sistem. Harus dibuat SOP lintas lembaga yang permanen, diperkuat mekanisme checks and balances, dan ditopang peningkatan kapasitas kelembagaan,” jelasnya.
Efatha menilai Prabowo memahami bahwa melawan mafia ekonomi tidak bisa hanya pakai kacamata hukum pidana.
Baca tanpa iklan