Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

PPI Jepang: Setahun Kepemimpinan Prabowo Mulai Temukan Arah Kebijakan Ekonomi Kerakyatan

Arah kebijakan pembangunan nasional mulai menemukan bentuk yang menonjolkan keberpihakan pada rakyat kecil

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
zoom-in PPI Jepang: Setahun Kepemimpinan Prabowo Mulai Temukan Arah Kebijakan Ekonomi Kerakyatan
Istimewa
KEPEMIMPINAN PRABOWO - Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, Prima Gandhi. Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sudah mulai menemukan bentuk yang menonjolkan keberpihakan pada rakyat kecil.  

Ringkasan Berita:
  • PPI Jepang menilai dua program besar Prabowo adalah MBG dan penghapusan utang
  • PPI Jepang mengingatkan pentingnya tata kelola dan transparansi MBG
  • PPI Jepang menyoroti pentingnya mekanisme pendanaan yang berkelanjutan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setahun sejak Presiden Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka memimpin pemerintahan, arah kebijakan pembangunan nasional mulai menemukan bentuk yang menonjolkan keberpihakan pada rakyat kecil.

Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, Prima Gandhi, menilai dua program besar yang digagas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penghapusan utang bagi petani, nelayan, serta pelaku UMKM merupakan manifestasi dari komitmen politik yang berpihak pada ekonomi kerakyatan.

"Program MBG, yang diluncurkan pada Januari 2025, telah menjangkau lebih dari 31 juta penerima manfaat di 38 provinsi. Melalui lebih dari 11 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemerintah tidak hanya menyalurkan makanan bergizi bagi anak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru hampir 400 ribu orang", kata Prima Gandhi dalam wawancara kepada media.

Baca juga: Setahun Pemerintahan Prabowo: 3 Kali Reshuffle Kabinet, 6 Menteri Diganti, 1 Kementerian Dibentuk

Bagi Prima Gandhi, capaian tersebut menunjukkan transformasi kebijakan sosial menjadi kebijakan ekonomi produktif.

“Program ini menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak bisa dipisahkan dari pemberdayaan ekonomi lokal. Petani, nelayan, dan pelaku UMKM ikut tumbuh bersama ketika rantai pasokan makanan bergizi dikelola secara inklusif,” ujarnya.

Namun, di tengah apresiasi itu, Prima mengingatkan pentingnya tata kelola dan transparansi. Ia menilai, tantangan utama program semacam MBG terletak pada kualitas distribusi, pengawasan mutu makanan, dan akuntabilitas anggaran. Insiden keracunan di beberapa daerah menjadi alarm bahwa sistem pengawasan perlu diperkuat.

Rekomendasi Untuk Anda

“Pemerintahan Prabowo sudah memiliki fondasi kuat. Tapi keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan memperkuat regulasi, penggunaan data sosial yang presisi, dan digitalisasi sistem monitoring,” katanya.

Kebijakan lain yang menuai perhatian PPI Jepang adalah penghapusan utang bagi petani, nelayan, dan UMKM. Langkah ini dinilai sebagai koreksi terhadap beban struktural ekonomi rakyat kecil.

"Dengan penghapusan utang, pemerintah memberi ruang bagi pelaku usaha produktif untuk memulai kembali aktivitas ekonomi tanpa tekanan finansial", tandasnya.

Bagi Prima melanjutkan, kebijakan tersebut tidak bisa berhenti pada penghapusan nominal utang semata. Ia menekankan perlunya pendampingan, akses permodalan, dan integrasi pasar agar kebijakan ini menjadi jalan pembebasan ekonomi, bukan sekadar populisme fiskal.

“Efek psikologisnya besar bagi rakyat kecil merasa negara hadir. Tapi harus ada jaminan bahwa kebijakan ini diikuti dengan penguatan kapasitas usaha, agar produktivitas benar-benar tumbuh,” katanya.

Ia menilai, sinergi antara MBG dan penghapusan utang menggambarkan pola kebijakan sosial-ekonomi yang berorientasi pada kemandirian.

Baca juga: Akademisi Udayana: Setahun Pemerintahan Prabowo Beri Efek Kejut ke Oligarki

"Pemerintah, tengah mencoba membangun ekosistem kesejahteraan yang berbasis komunitas, bukan sekadar menyalurkan bantuan", tambahnya.

Dalam pandangan Prima, ukuran keberhasilan pemerintahan Prabowo ke depan bukan hanya soal angka penerima manfaat atau besarnya anggaran, tetapi pada perubahan struktural seperti penurunan angka tengkes, peningkatan produktivitas, dan berkurangnya kemiskinan ekstrem.

“Presiden Prabowo memulai dengan keberanian mengambil kebijakan prorakyat yang nyata. Tantangannya sekarang adalah menjaga integritas implementasi, memastikan transparansi, dan memperkuat kapasitas SDM pelaksana,” ujar Prima.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas