Survei Terbaru Penilaian Publik soal Program MBG, Dilanjutkan atau Dihentikan Sementara?
Lembaga survei Median merilis hasil survei terbaru terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan.
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei terbaru terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Prabowo–Gibran.
Median adalah sebuah lembaga riset opini publik yang berfokus pada pengumpulan dan analisis persepsi masyarakat terhadap berbagai isu sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia.
Berdiri dengan kantor pusat di Jakarta Selatan, lembaga ini dipimpin oleh Rico Marbun selaku Direktur Eksekutif.
Median merupakan lembaga survei yang telah terdaftar di KPU dan asosiasi lembaga survei Indonesia.
Selain melakukan survei ekonomi dan politik, Median juga kerap melakukan survei terhadap fenomena di masyarakat.
Dari hasil survei, sebanyak 63,9 persen publik menyatakan puas terhadap pelaksanaan program MBG.
Sementara 34,6 persen menyatakan tidak puas, dan sisanya 1,5 persen memilih tidak tahu atau tidak menjawab.
“Program ini dipersepsikan membantu meningkatkan gizi anak sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga,” ujar Rico dalam paparan survei publik di Jakarta, Rabu (23/10/2025).
Namun menurutnya, publik cukup terbelah menyikapi pertanyaan apakah program ini dilanjutkan atau dihentikannya.
Sebanyak 48,9 persen publik menyatakan program MBG sebaiknya dilanjutkan, sementara 38,3 persen berpendapat perlu dihentikan sementara untuk diperbaiki, dan 12,1 persen menginginkan agar program tersebut dihentikan sepenuhnya.
Menurutnya, berdasarkan survei diketahui beberapa alasan utama mengapa publik ingin MBG dilanjutkan.
Antara lain, 14,6 persen dianggap mampu meningkatkan Gizi Anak, meringankan ekonomi keluarga 13,1 persen, dianggap tepat sasaran 10,9%.
"Serta dianggap berkualitas dalam mplementasinya sebanyak 7,7%, dan mampu membuka lapangan kerja 5,5%," katanya.
Sedangkan, menurut Rico, terdapat lima alasan utama mengapa sebagian masyarakat menyatakan tidak puas terhadap program MBG.