Khutbah Jumat 24 Oktober 2025: Bahaya Hoaks dan Fitnah Digital dalam Islam
Teks Khutbah Jumat 24 Oktober 2025 mengangkat tema penting tentang bahaya hoaks dan fitnah digital dalam pandangan Islam relevan di era media sosial.
Penulis:
Muhammad Alvian Fakka
Editor:
Suci BangunDS
Di tengah derasnya arus informasi yang tak terbendung, hanya dengan taufik Allah kita mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muḥammad SAW, teladan dalam ucapan dan perbuatan, yang mengajarkan adab berbicara dan bahaya kata tanpa ilmu.
Wahai kaum Muslimin, di antara fitnah besar zaman ini adalah musibah informasi berita bohong dan fitnah yang menyebar tanpa tabayyun.
Banyak kehormatan rusak hanya karena satu kabar palsu. Maka, mukmin sejati adalah yang berhati-hati sebelum berbicara, meneliti sebelum menyebarkan, dan takut kepada Allah dalam setiap kata yang ia tulis dan bagikan.
Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,
Umat Islam hari ini sedang menghadapi ujian besar berupa musibah informasi fitnah yang datang bukan dengan pedang, tetapi melalui layar dan jari-jemari kita sendiri.
Di era digital, berita menyebar lebih cepat dari cahaya, menembus batas ruang dan waktu tanpa sempat diperiksa kebenarannya.
Apa yang viral seringkali dianggap benar, padahal bisa jadi hanyalah kebohongan yang dibungkus rapi dengan emosi dan kepentingan.
Islam sejak empat belas abad yang lalu telah memperingatkan umatnya dari bahaya al-ifk (berita bohong), fitnah, dan ghibah, karena semua itu dapat menghancurkan ukhuwah, menebar kebencian, dan menimbulkan dosa besar di sisi Allah.
Maka berhati-hatilah, wahai hamba Allah, agar jari-jemari kita tidak menjadi saksi keburukan di hari kiamat karena turut menyebarkan dusta di dunia maya.
Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,
Kita hidup di zaman yang disebut para ulama sebagai “fitnah akhir zaman”, di mana kebenaran dan kebatilan bercampur, dan manusia lebih percaya pada apa yang viral daripada apa yang benar.
Ledakan media sosial telah mengubah wajah dunia: setiap orang kini bisa menjadi “penyebar berita”, tanpa perlu izin, tanpa penyaringan, bahkan tanpa ilmu.
Satu unggahan bisa menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan ini tersimpan bahaya besar karena di saat manusia lalai untuk tabayyun, jempolnya bisa berubah menjadi senjata yang membunuh karakter saudaranya sendiri.
Betapa sering kita menyaksikan berita palsu yang menimbulkan permusuhan, isu yang memecah belah umat, atau fitnah terhadap para ulama dan dai yang sebenarnya tak bersalah.
Semua bermula dari satu kiriman, satu komentar, atau satu unggahan yang disebarkan tanpa pikir panjang.
Dulu ujian seorang mukmin ada pada lisannya, tetapi hari ini ujian kita berpindah ke ujung jempol.
Maka berhati-hatilah, wahai kaum Muslimin, sebab apa yang kita tulis dan sebarkan akan dicatat oleh malaikat, dan setiap hurufnya bisa menjadi saksi di hadapan Allah pada hari pembalasan.
Baca tanpa iklan