Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khutbah Jumat, 24 Oktober 2025: Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim

Berkaitan dengan Hari Santri 22 Oktober 2025, teks khutbah berikut akan mengajak kita membahas soal Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lanny Latifah
zoom-in Khutbah Jumat, 24 Oktober 2025: Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
DENGARKAN KUTBAH JUMAT - Ribuan umat Islam yang tengah menjalankan puasa mendengarkan kutbah sebelum pelaksanaan shalat Jumat di Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (10/7). Berkaitan dengan Hari Santri 22 Oktober 2025, teks khutbah berikut akan mengajak kita membahas soal Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah berjudul "Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim" bisa dibacakan saat shalat Jumat hari ini, 24 Oktober 2025.

Teks khutbah Jumat ini dirilis oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Diketahui, khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.

Khutbah merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.

Berkaitan dengan Hari Santri yang diperingati 22 Oktober 2025, teks khutbah dalam artikel berikut akan mengajak kita untuk mempelajari tentang Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim.

Santri sebagai pelajar agama memiliki tanggung jawab intelektual untuk menjaga kemurnian ilmu, mengamalkannya, dan menebarkannya kepada masyarakat dengan hikmah dan akhlak. 

Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah Jumat, 24 Oktober 2025.

Baca juga: Doa Hari Jumat, Waktu Paling Mustajab untuk Memohon Ampunan Allah

Santri dan Tanggung Jawab Intelektual Muslim

Khutbah Pertama

 الحمدُ للهِ الَّذِي عَلَّمَ الإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَفَضَّلَ الْعُلَمَاءَ عَلَى سَائِرِ الأَنَامِ، وَجَعَلَ الْعِلْمَ نُورًا وَهُدًى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ الزَّادِ، وَهِيَ أَسَاسُ كُلِّ صَلَاحٍ وَرُقِيٍّ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ.

Rekomendasi Untuk Anda

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya ketakwaan adalah sebaik-baik bekal hidup dan menjadi dasar bagi lahirnya generasi berilmu yang berakhlak. Allah Swt berfirman dalam Q.S. Al-Mujādalah [58]: 11:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ.

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini turun berkenaan dengan adab majelis ilmu. Ketika Rasulullah saw duduk mengajarkan sahabat, sebagian di antara mereka tidak mendapat tempat duduk, maka Allah menurunkan perintah agar mereka memberi ruang satu sama lain, kemudian ditegaskanlah bahwa Allah meninggikan derajat orang beriman dan orang berilmu beberapa tingkatan.

Menurut Imam at-Thabari, yang dimaksud adalah bahwa Allah meninggikan orang-orang beriman karena ketaatan dan keikhlasan mereka, serta meninggikan orang-orang berilmu di atas yang lain karena kemuliaan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa derajat ulama di sisi Allah jauh di atas orang-orang beriman biasa karena merekalah yang menuntun umat kepada petunjuk. Ibnu ‘Abbās sampai berkata:

لِلْعُلَمَاءِ فَوْقَ الْمُؤْمِنِينَ سَبْعُ مِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ.

“Para ulama memiliki keutamaan tujuh ratus derajat di atas orang beriman biasa; jarak antara satu derajat dengan yang lain sejauh perjalanan lima ratus tahun.”

Sementara itu, al-Qurṭubī menegaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam ayat ini adalah ilmu tentang Allah dan kewajiban untuk taat kepada-Nya, bukan sekadar pengetahuan duniawi yang hampa dari nilai ketuhanan. Syekh Nawawī al-Bantanī dalam Marāḥ Labīd menafsirkan ayat ini dengan indah:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ: أَيْ فِي الْجَنَّةِ وَفِي الدُّنْيَا بِالرِّفْعَةِ وَالْجَاهِ وَالذِّكْرِ الْجَمِيلِ.

“Allah meninggikan orang-orang beriman dan berilmu baik di surga maupun di dunia, dengan kemuliaan, kedudukan, dan nama baik.”

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas