Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Mendukbangga Soroti Fatherless di Era Digital: Anak Lebih Dekat ke Gadget daripada Ayah

Data Fatherless dari Pendataan Keluarga 2025, menunjukkan 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mendukbangga Soroti Fatherless di Era Digital: Anak Lebih Dekat ke Gadget daripada Ayah
Tribunnews/Rizki Sandi Saputra
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji saat ditemui Tribunnews usai Talk Show Solidaritas GENTING dengan tajuk “Tumbuh Tanpa Batas” di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (15/10/2025). Wihaji memastikan MBG menjadi salah satu upaya penting pemerintah cegah stunting. 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti fenomena fatherless di era digital.

Fatherless sendiri diartikan sebagai kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran ayah mereka secara fisik dan emosional. Meskipun kenyataan sang ayah masih hidup.

Gadget menjadi salah satu sebabnya. Kehadiran gadget kini jadi "keluarga baru".

Data Fatherless dari Pendataan Keluarga 2025, menunjukkan 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless.

Berdasarkan data, rata-rata orang menggunakan gadget 7,8 jam setiap hari.

"Berapa menit orang tua benar-benar mengobrol dengan anak?” ujar dia pada pembukaan kegiatan Ngobrol Perkara Gati (NGOPI) yang digelar luring dan daring serta diikuti 34 provinsi,  Jumat (14/11/2025).

Baca juga: Kemenkes Soroti Dampak Fatherless di Indonesia, Anak Berisiko Kehilangan Arah di Masa Depan

Dalam suasana peringatan Hari Ayah Nasional, Menteri Wihaji menegaskan teknologi memiliki dua sisi.

Rekomendasi Untuk Anda

Satu disisi dianggap menghibur, di lain sisi menjadi masalah baru jika tidak bijak penggunaannya.

Peran ayah sangat menentukan dalam membentuk leadership dan karakter anak.

“Hati-hati, jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang kurang menjadi petarung,” ujar Menteri Wihaji.

Ia berharap orang tua tidak membiarkan, anak-anak lebih banyak berbicara dengan handphone.

Algoritma gawai bisa mempengaruhi anak-anak.

"Kalau ada masalah, mereka curhat ke handphone, bukan ke orang tua. Kita bisa dianggap hampa, terutama sosok ayah. Mari, kita sama-sama merenung,” jelas Wihaji.

Keluarga adalah institusi terkecil dalam negara, namun memiliki dampak terbesar.

"Mari bersama-sama menata keluarga Indonesia, mulai dari unit yang paling dasar,” pesan menteri Wihaji.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas