Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

"Aku, Wastra dan Kisah": Pagelaran Seni dari Matahari dari TIMUR

Matahari dari TIMUR (MDT) kembali menyalakan cahaya budaya Nusantara melalui pagelaran seni tahunan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in
HO/IST
“Aku, Wastra dan Kisah”, sebuah perayaan lintas generasi yang memadukan wastra, narasi perempuan dan harapan anak bangsa dalam satu ruang rasa. 

Dipandu oleh Agustin Ramli dan Adinda Cresheilla, Pagelaran “Aku, Wastra, dan Kisah” hadir di Bulan Pahlawan, bulan ketika semangat perjuangan dirayakan dan menyala hangat di jiwa.

Pagelaran ini melibatkan perempuan lintas generasi dari berbagai bidang, terinspirasi oleh semangat mama-mama dari Indonesia Timur, sebuah perayaan yang dipersembahkan bagi seluruh perempuan dan anak-anak yang setiap hari berani bermimpi, berkarya dan berjuang dengan cinta, ketulusan dan harapan. Dalam jahitan karya Inet Leimena bersama tim show management dan Meyta Rizki Sari sebagai koreografer serta Putu Anadita sebagai MD, para saudari perempuan inspiratif berbicara melalui karya. Narasi pagelaran disampaikan dalam dua bentuk lisan dan bahasa isyarat oleh: Ira Duaty, Farhannisa Nasution, Margareta Astaman, Devina Bertha, Jennifer Natalie, Gestary, Zahfira, dan Monica. Mdt ingin menyampaikan bahwa bahwa seni dan budaya adalah dari dan untuk semua.

SEQUENCE 1 – “AKU” oleh GHEA RESORT
Persembahan untuk Perempuan, Keibuan dan Ibu Pertiwi 

Musim ini, Ghea Resort by Amanda Janna menghadirkan kembali Sumba sebagai kanvas kisah budaya, juga sebagai tribut untuk tahun ke 45 Ibu mereka Ghea Panggabean berkarya di dunia mode.

Koleksi Sumba mengangkat jiwa Tana Humba, menerjemahkan motif ikat yang berani, simbol leluhur yang sakral, serta kuda Sandelwood yang ikonik ke dalam siluet modern.Di jantung koleksi ini, berlari gagah kuda Sumba atau Sandelwood pony, simbol abadi dari kekuatan, kebebasan, dan jiwa. 

Mamuli adalah pusaka sakral Sumba, sebuah perhiasan emas berbentuk rahim perempuan, melambangkan kesuburan, kesinambungan, serta kekuatan kosmis perempuan sebagai sumber kehidupan. Dalam koleksi ini, Mamuli menjelma menjadi simbol pemberdayaan, bentuknya ditafsirkan ulang dalam detail modern, motif cetak, dan aksesori, sebagai pengingat bahwa warisan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hidup dan terus berevolusi. Ditampilkan oleh para perempuan dan ibu Indonesia:
Maudy Koesnadi, Endhita, Dara Warganegara, Brenda, Naila Alatas, Tiffany Hendrawan, Yuanita Haryadi, Prinka Cassy, Advina Ratnaningsih, Nadine Chandrawinata, dan Kimmy Jayanti.

Mereka hadir sebagai penanda bahwa ketika perempuan berdaya, negeri pun turut berjaya.

Rekomendasi Untuk Anda

 SEQUENCE 2 – “KISAH” oleh BY ARRA (Tenun Sabu Raiju)
Tentang identitas, garis keturunan dan kisah yang hampir hilang.

Koleksi “KISAH” karya Mita Hutagalung (by Arra) merayakan perempuan tangguh yang menenun kehidupan dengan ketekunan dan kasih. Dalam pagelaran ini, by Arra menghadirkan perpaduan mendalam antara desain kontemporer dan tenun Sabu, salah satu identitas budaya paling penting dari masyarakat Pulau Sabu.

Èi, Hi’je, Hubi Ae, Hubi Iki, Identitas dan Bahasa yang Menyimpan Jejak Leluhur dan identitas perempuan Sabu

Bagi masyarakat Sabu, kain tenun bukan sekadar pakaian, tetapi identitas yang melekat sepanjang hidup. Dua bentuk wastra utama mereka adalah: Èi — sarung perempuan yang mengandung simbol garis keturunan. Dan Hi’je,  kain tenun yang dikenakan sebagai identitas dalam berbagai ritual dan penanda sosial. Masyarakat Sabu hidup dalam sistem bilineal, mengenal klan patrilineal dan dua garis keturunan matrilineal yang disebut hubi: Hubi Ae (Bunga Palem Besar) dan Hubi Iki (Bunga Palem Kecil).

Melalui koleksi by Arra dan perpaduan dengan kain tenun Sabu Raiju, motif-motif ini dihidupkan kembali sebagai pengingat bahwa identitas budaya Sabu kini terancam punah dalam 1–2 generasi. Kita bersama harus bergandengan tangan dan melangkah untuk menyelamatkannya.  Koleksi ini dibawakan oleh perempuan seniman Indonesia, Renata Koesmanto, Nadia Mulya, Artika Sari Devi dan Eyvel, sebuah pesan bahwa dalam setiap kisah hidup, perempuan saling menguatkan dan berjalan bersama dalam setiap kisah hidup. 

SEQUENCE 3 – “KASIH” oleh AMAPOLA
Tentang cinta yang merawat, yang menyatukan, yang memberi arah.

Amapola karya Paula Verhoeven mempersembahkan Desert Series dalam sequence KASIH. Lahir dari keinginan untuk menghormati puisi tenang gurun sambil mengangkat denyut budaya Wastra Indonesia, Desert Series memberikan makna pada setiap siluet baru. Nuansa bumi yang mengingatkan pada batu pasir, tanah liat dan langit senja dihadirkan dalam jacquard skulpural, tenunan bertekstur yang menggema lekuk dan bayangan bukit-bukit pasir yang bergeser. Bentuk-bentuk kontemporer ini bertemu dengan jiwa kain tradisional Indonesia, yang motifnya membawa kenangan tentang warisan, identitas, dan generasi pengerajin.

Melalui penyatuan ini, setiap karya menjadi sebuah narasi visual: sebuah dialog antara keheningan dan ekspresi, ketenangan alami dan resonansi budaya. Ini sebuah perjalanan evocative melalui lanskap, warisan dan seni yang mempersatukan keduanya. Koleksi yang dibawakan oleh persembahan gerak teatrikal 2 generasi ibu dan anak:Veranica Tio bersama Jasmine dan Janice Tio dan Dilanjutkan oleh: Kaemita Boediono, Ririn Nasution, Clafita Witoko, Elsa Dewi, Mut’iah beserta putrinya Malika Abiya melambangkan kasih perempuan kepada anak, kepada negeri dan kepada sesama saudari perempuan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas