Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

"Aku, Wastra dan Kisah": Pagelaran Seni dari Matahari dari TIMUR

Matahari dari TIMUR (MDT) kembali menyalakan cahaya budaya Nusantara melalui pagelaran seni tahunan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in
HO/IST
“Aku, Wastra dan Kisah”, sebuah perayaan lintas generasi yang memadukan wastra, narasi perempuan dan harapan anak bangsa dalam satu ruang rasa. 

 SEQUENCE 4 – “WASTRA” oleh PENDOPO
Tentang warna yang berbeda, namun satu dalam harmoni.

Pendopo, rumah bagi lebih dari 300 UMKM di bawah naungan Kawan Lama Group, turut berpartisipasi dalam pagelaran “Aku, Wastra, Kisah” yang digelar oleh Matahari Dari Timur. Pagelaran ini menjadi ruang bagi Pendopo untuk menampilkan karya yang terinspirasi dari kekayaan wastra Indonesia, di mana setiap helai wastra menyimpan kisah dari tangan-tangan yang penuh makna.

Pendopo menampilkan tenun Umalulu (Hanggi & Lau Pahudu / Pahikung) dan tenun Buna dari Timor.

Dari Umalulu, terdapat dua jenis tenun yang ditampilkan. Hanggi, tenun berbentuk persegi panjang yang dikenakan oleh pria sebagai pakaian adat, dan Lau Pahudu dengan teknik Pahikung, tenun songket dengan motif timbul yang dipakai oleh wanita. Keduanya menghadirkan motif dengan makna spiritual yang erat kaitannya dengan kepercayaan Marapu, di mana setiap simbol menjadi doa sekaligus penanda status sosial. Motif kuda (Njara) melambangkan keberanian dan kemuliaan, gurita (Wita) mencerminkan kebijaksanaan seorang pemimpin, rusa (Ruha) merepresentasikan kehormatan, sementara buaya dan ular naga menggambarkan kekuatan alam serta leluhur. Adapun motif udang (Kurang) menjadi simbol kehidupan baru dan harapan akan kebangkitan.

Sementara dari Buna, wastra tenun khas dari wilayah Timor, khususnya Timor Tengah Utara, memancarkan kekayaan keindahan alam sekitar dengan motif yang padat juga kompleks, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga ragam bentuk geometris. Lebih dari sekadar karya indah, tenun Buna memiliki nilai simbolis yang mendalam dengan setiap corak menjadi penanda identitas daerah, status sosial, serta pandangan hidup masyarakat setempat

Karya indah penuh makna ini melekat dan dibawakan oleh seniman muda disabilitas berbakat :Jacqueline. Dilanjutkan oleh Ajeng Svastiari bersama puteri kembarnya Kala dan Kali, para model kembar Allison, Jacqueline, Icha, Ichi, adik-adik disabilitas Grissandi, Evy, Ruth Stefany, Aiko, serta model lintas generasi: Emmy Chaniago, Ena Marscha, Chloe, Bunga Natalia, Maria Christy, Grace Saviour, dan Zoe.

Putu Laura, Head of Pendopo, menyampaikan bahwa keikutsertaan Pendopo dalam pagelaran ini merupakan bentuk penghargaan terhadap kekayaan wastra Indonesia yang menjadi jati diri bangsa. “Melalui harmoni dua karya ini, Pendopo ingin menghadirkan pesan bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan dalam kebersamaan, kita semua tetap satu.”

Rekomendasi Untuk Anda

 PENOPANG KARYA & MITRA KOLABORASI

Dalam perjalanan mewujudkan pagelaran ini, MDT bersyukur bisa bersinergi dengan baik dengan para penopang karya, yang telah melangkah nyata melalui kontribusi dan karya masing-masing. Mereka adalah Sunset Pier, Agung Sedayu Group, WARDAH, Bintang Sempurna, OPTIK SEIS, Pendopo, Honeybee Cotton, Milash, Ikan Bakar Cianjur, Safe Care, Il Gelato di Matteo, Pasta Basta, Java Fresh, Royal Avila Boutique Resort, Gambino dan party.holic event stylist. Melalui dukungan, kolaborasi, serta komitmen kukuh, pagelaran “Aku, Wastra dan Kisah” dapat terwujud sebagai ruang perjumpaan bagi seni, budaya, serta harapan generasi bangsa

Penghargaan setinggi-tingginya, juga diberikan oleh MDT kepada para media partner yang telah menjadi jembatan suara dan karya dalam langkah ini. National Geographic Indonesia, Her World, Dewi, Oppal, Insert live, Luxina.id, Media Indonesia, Parapuan, Grid.id, Stylo Indonesia, Nova, Tribunnews dan Fimela.

Melalui ruang cerita yang mereka buka, pesan-pesan tentang perempuan, budaya dan harapan dapat menjangkau lebih banyak jiwa. Rekan media adalah penghubung yang membuat setiap kisah tidak hanya hadir di panggung, tetapi juga hidup di benak dan ingatan banyak insan.

 Laura Muljadi, insiator serta creative director dari Matahari dari TIMUR menuturkan bahwa, “Wastra hanya akan terus hidup jika kita kenal, kita pakai, kita cintai, kita jaga, kita hidupkan dan kita wariskan. Ini bukan tugas satu orang atau satu wilayah, tapi tanggung jawab kita bersama sebagai saudara/i sebangsa, apa pun latar belakang kita. Kekayaan budaya adalah hak kita bersama dan adalah tanggung jawab kita bersama untuk tetap menghidupkannya lewat langkah kita masing-masing.” Akhir kata, Laura mengajak kita semua untuk, “Mari mengenal, mencinta, dan melangkah bersama untuk Indonesia karena Kita, Generasi Berbudaya. Kita Indonesia."

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas