Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun
LIVE ●
tag populer

Khutbah Jumat 28 November 2025 Meluruskan Makna Syukur

Teks khutbah Jumat 28 November 2025 tema meluruskan makna syukur sebagai refleksi spiritual bagi umat Islam, melihat makna yang jauh lebih mendalam.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Khutbah Jumat 28 November 2025 Meluruskan Makna Syukur
Tribun Medan/Danil Siregar
KHUTBAH JUMAT - Umat Islam melaksanakan Salat di Masjid Raya Al Mashun, Medan, Jumat (6/6/2025). Teks khutbah Jumat 28 November 2025 tema meluruskan makna syukur sebagai refleksi spiritual bagi umat Islam, melihat makna yang jauh lebih mendalam. 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat hari ini, 28 November 2025, mengangkat tema penting tentang meluruskan makna syukur sebagai refleksi spiritual bagi umat Islam. 

Syukur sering dipahami sebatas ucapan alhamdulillah atau rasa puas terhadap nikmat yang diterima, padahal dalam ajaran Islam syukur memiliki makna yang jauh lebih mendalam. 

Syukur bukan hanya ekspresi lisan, melainkan juga sikap hati yang penuh kesadaran atas karunia Allah, serta diwujudkan dalam amal perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dalam khutbah Jumat yang dikutip dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, syukur memiliki tiga dimensi utama.

Yakni syukur dengan hati berupa pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah, syukur dengan lisan melalui pujian dan doa, serta syukur dengan perbuatan dengan menggunakan nikmat sesuai tujuan yang diridai Allah. 

Khutbah Jumat kali ini menekankan bahwa meluruskan makna syukur berarti menghindari sikap lalai, kufur nikmat, atau menggunakan karunia Allah untuk hal yang sia-sia.

Tema khutbah ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia terjebak dalam kesibukan duniawi dan lupa menghargai nikmat sederhana. 

Rekomendasi Untuk Anda

Jika meluruskan makna syukur, umat Islam diajak untuk tidak hanya berterima kasih atas nikmat besar, tetapi juga mensyukuri hal-hal kecil yang sering terlewatkan. 

Syukur yang benar akan melahirkan ketenangan batin, memperkuat iman, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Khutbah Jumat 28 November 2025 ini mengingatkan jamaah bahwa syukur sejati adalah kunci keberkahan hidup. 

Hati yang penuh kesadaran, lisan yang senantiasa memuji, dan perbuatan yang menebar manfaat, umat Islam dapat menjadikan syukur sebagai jalan menuju ridha Allah dan kebahagiaan dunia akhirat.

Baca juga: Doa Hasbunallah Wa Nikmal Wakil, Rahasia Tawakal Kaum Muslimin

Selengkapnya berikut teks khutbah Jumat 28 November 2025 tema meluruskan makna syukur.

Khutbah Jumat 28 November 2025

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنْ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jama’ah shalat jum’at yang dimulyakan Allah Ta’ala

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat mulai dari nikmat sehat, sempat dan juga nikmat paling besar adalah nikmat iman dan islam.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi junjungan Muhammad sallallahu alihi wasallam , keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.

Mampukah kita menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang telah kita dapat hingga saat ini? Tentulah, tidak!. Menghitung jumlah nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, terlebih sehari bahkan selama hidup kita di dunia ini.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas