Waspada Ancaman ISPA pada Anak Usai Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi, bahkan 2–4 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi ISPA.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Lonjakan kasus ISPA mulai muncul di berbagai lokasi pengungsian pascabanjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera
- Banjir bukan hanya memicu penyakit pencernaan atau kulit, tetapi juga sangat berpotensi meningkatkan kasus ISPA, terutama pada anak-anak
- Kondisi pengungsian merupakan tempat yang paling mudah bagi virus pernapasan untuk menyebar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mulai muncul di berbagai lokasi pengungsian pascabanjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
ISPA adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yaitu peradangan pada saluran pernapasan atas maupun bawah yang berlangsung cepat dan mudah menular.
Baca juga: Banjir Bandang di Sumatra, Greenpeace Sudah Ingatkan Sejak 10 Tahun Lalu, tapi Tak Didengar
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari ahli kesehatan masyarakat sekaligus peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global , Dicky Budiman.
Ia menegaskan bahwa banjir bukan hanya memicu penyakit pencernaan atau kulit, tetapi juga sangat berpotensi meningkatkan kasus ISPA, terutama pada anak-anak.
Baca juga: Sumatera Dilanda Banjir, Ketua SC Reuni 212: Dulu Ada FPI yang Bisa Bantu Korban Bencana Alam
“Banjir ini adalah multi hazard event yang memicu peningkatan infeksi saluran pernapasan akut melalui mekanisme tidak langsung,” ujar Dicky pada keterangannya, Selasa (2/12/2025).
ISPA Bisa Melonjak Cepat 48–72 Jam Pertama Pascabencana
Menurut Dicky, kondisi pengungsian merupakan tempat yang paling mudah bagi virus pernapasan untuk menyebar.
Kepadatan tenda, ventilasi minim, dan ruangan yang tertutup menjadi kombinasi yang ideal bagi penularan.
“Banyak yang tinggal berdekatan dalam ruang tertutup ventilasi minim. Droplets dan aerosol virus seperti influenza, Virus Sinsitial Pernapasan (RSV), dan rhinovirus sangat mudah menyebar, ditambah anak-anak sering bermain dan berkumpul di ruang yang sama,” jelasnya.
Situasi ini menjadi pendorong kuat meningkatnya attack rate, atau tingkat penularan infeksi.
Dicky menyebutkan bahwa berbagai riset pascabencana di Asia menunjukkan ISPA merupakan penyakit yang paling cepat melonjak dalam 48–72 jam pertama setelah banjir.
Lingkungan Lembap dan Polusi Dapur Memperburuk Kondisi
Tak hanya kerumunan di tenda, suhu dingin dan kelembapan tinggi yang muncul setelah banjir turut memperkuat stabilitas virus di udara dan permukaan.
Paparan udara dingin juga menyebabkan iritasi saluran napas pada anak dan menurunkan fungsi silia.
Polusi dalam ruangan pun menjadi faktor lain yang sering terabaikan. Banyak keluarga memasak di tenda atau ruang darurat, sehingga asap dapur meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
“Kondisi lembab dan dingin meningkatkan stabilitas virus pernapasan. Asap dapur di pengungsian juga memperburuk saluran napas dan menjadi trigger dari ISPA,” imbuh Dicky.
Stres akibat bencana, kurang tidur, hingga asupan nutrisi yang tidak memadai turut menurunkan daya tahan tubuh anak.
Baca tanpa iklan