Waspada Ancaman ISPA pada Anak Usai Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi, bahkan 2–4 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi ISPA.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Muhammad Zulfikar
Akses layanan kesehatan yang terbatas membuat batuk pilek ringan tidak tertangani cepat, sehingga berpotensi berkembang menjadi ISPA berat.
Baca juga: Muzani Ungkap Alasan Prabowo Tak Kunjung Tetapkan Banjir Sumatra Bencana Nasional
Mengapa Kasus Diare atau Penyakit Kulit Tidak Langsung Meningkat?
Menurut Dicky, penyakit pencernaan memiliki masa inkubasi lebih panjang.
Jika distribusi air bersih dan fasilitas sanitasi darurat cepat tersedia, lonjakan kasus bisa tertahan.
Sementara penyakit kulit lebih dipengaruhi paparan air banjir berkepanjangan.
Namun, banyak anak segera dievakuasi sehingga paparan lebih pendek, dan fasilitas mandi darurat di sebagian lokasi membantu menekan kasus.
Kelompok Usia Balita Paling Rentan
Dicky menekankan bahwa anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi, bahkan 2–4 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi ISPA dalam kondisi pengungsian yang padat dan lembap.
“Anak usia kurang dari 5 tahun itu kelompok paling rentan, dan risiko meningkat 2–4 kali lipat di lingkungan pengungsian yang padat dan lembab,” ujarnya.
Melihat situasi ini, Dicky menilai intervensi cepat harus menjadi prioritas, terutama selama masa kritis pascabencana.
Ia merekomendasikan beberapa langkah yang perlu segera dilakukan:
-Memperbaiki ventilasi di posko
-Mengurangi kepadatan tenda pengungsian
-Membuat zonasi ruang tidur anak
-Menyediakan masker untuk anak-anak
-Pemantauan harian gejala ISPA di posko
-Edukasi batuk bersih dan kebersihan tangan
Baca tanpa iklan