Khutbah Jumat 5 Desember 2025: Membentuk Masjid Ramah Difabel
Teks khutbah Membentuk Masjid Ramah Difabel untuk salat Jumat pada 5 Desember 2025 dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Whiesa Daniswara
Di Mesir, terbit Fatwa No. 2460/2018 yang menegaskan, menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas di masjid adalah bagian dari khuluq Islami dan maslahah syar'iyyah. Sedangkan di Yordania lebih tegas lagi, masjid yang tidak menyediakan akses ibadah bagi difabel dianggap belum memenuhi standar pelayanan publik keagamaan.
Di Indonesia, terdapat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 958 Tahun 2021 tentang Standar Masjid dan Musala Ramah Difabel. Keputusan tersebut merupakan pedoman nasional bagi masjid/musala agar menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi difabel (ramah inklusif, aksesibel) seperti ramp, toilet/wudu aksesibel, jalur akses, penanda ruangan, kitab suci braile, bahkan lif dan petugas berbahasa isyarat bila memungkinkan dibangun.
Sayangnya masih banyak masjid yang belum menerapkan beleid regel Kementerian Agama tersebut. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bertajuk "Aksesibilitas Fasilitas dan Pelayanan Publik bagi Penyandang Disabilitas di 47 Masjid Kementerian, Lembaga Negara, dan BUMN se-Jakarta".
Temuan penelitian yang disampaikan Direktur Eksekutif P3M Sarmidi Husna pada Minggu, 18 Mei 2025 menunjukkan, hampir seluruh masjid di lingkungan pemerintah belum memenuhi standar aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, meskipun terdapat kerangka hukum yang komprehensif.
Hal ini diperkuat dengan banyaknya bangunan masjid belum didesain dengan mempertimbangkan aksesibilitas bagi kaum difabel. Jalur kursi roda sering kali tidak tersedia. Pegangan tangan di tangga tidak disediakan, dan fasilitas wudu pun kerap sulit dijangkau oleh mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Selain itu, masih terdapat kekurangan dalam kebijakan dan manajemen masjid yang inklusif. Banyak pengurus masjid yang belum memiliki pedoman teknis untuk pelaksanaan ibadah dan kegiatan keagamaan yang ramah disabilitas.
Tidak jarang pula para penyandang difabel belum diberi ruang untuk berpartisipasi sebagai imam, khatib, atau pengurus masjid, padahal mereka pun memiliki potensi dan keilmuan yang layak diapresiasi.
Hadirin rahimakumullah,
Keterbatasan akses ini diperparah oleh minimnya pendidikan keagamaan yang inklusif di masjid. Masih sedikit guru agama yang mampu mengajar dengan pendekatan khusus, seperti penggunaan bahasa isyarat atau sistem baca bagi tunanetra. Hal ini diperburuk oleh adanya stigma dan diskriminasi sosial-keagamaan yang masih menganggap difabel sebagai beban, bukan sebagai individu dengan potensi spiritual yang setara di hadapan Allah Swt.
Masih banyak penyandang difabel mengalami hambatan dari dalam diri sendiri-rasa minder, trauma, dan ketakutan yang lahir dari pengalaman diskriminatif di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kondisi ini pada akhirnya menghambat perkembangan spiritual dan aktualisasi keberagamaan mereka. Dalam konteks ini, masih dapat dihitung dengan jari masjid yang memberi solusi konkret atas problem ini.
Hadirin sekalian,
Ajaran Islam sesungguhnya menekankan pentingnya kesetaraan. Masjid seharusnya menjadi wadah atau ruang yang inklusif bagi seluruh umat, tanpa terkecuali, bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas untuk mengaktualisasikan diri dalam ibadah maupun aktivitas lainnya. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa masih banyak masjid yang belum ramah bagi mereka.
Oleh karenanya, penting menjadi perhatian kita semua mendukung program ramah rumah ibadah seperti yang telah ditunjukkan oleh Kementerian Agama dalam program masjid ramah disabilitas, ramah anak dan lansia, dan ramah musafir.
Semoga khotbah Jum'at singkat ini menjadi renungan dan menginspirasi sanubari kita untuk bersama-sama berupaya mewujudkan masjid yang benar-benar menjadi rumah bagi difabel. Masjid yang tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga mulia fungsinya sebagai rumah ibadah yang memuliakan seluruh hamba Allah tanpa diskriminasi, khususnya bagi kaum difabel.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ الذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِينَ الطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أَوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ؛ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
(Tribunnews.com/Latifah)
Baca tanpa iklan