Khutbah Jumat 12 Desember 2025: Keteladanan Ulama Nusantara
Teks khutbah Jumat “Keteladanan Ulama Nusantara” akan dibacakan pada shalat Jumat 12 Desember 2025, membahas peran serta teladan para ulama.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Tiara Shelavie
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujādalah [58]: 11).
Dengan kedudukan yang mulia dan tinggi tersebut, ulama dipilih dan diberi mandat Allah Swt sebagai pembawa dan penerus risalah dan pembimbing umat dalam kebaikan (ma’ruf) dan menjauhi yang mungkar, sebagaimana Al-Qur’an surah Ali ‘Imran [3] ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Banyak hadis Nabi Muhammad saw yang juga menjelaskan kedudukan, posisi, dan fungsi ulama. Antara lain, Rasulullah saw menegaskan ulama adalah pewaris para nabi:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, ia telah memperoleh bagian yang banyak.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Pada hadis lain, Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa ulama adalah pelita dan penunjuk jalan lurus:
إِنَّ مَثَلَ الْعُلَماءِ فِي الْأَرْضِ كَمَثلِ النُّجُومِ يُهْتدَى بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، فَإِذَا انْطَمَستِ النُّجُومُ، أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الْهُدَاةُ.
“Sesungguhnya perumpamaan para ulama di muka bumi adalah seperti bintang-bintang yang dijadikan petunjuk dalam kegelapan di darat maupun di lautan, apabila hilangnya bintang-bintang tersebut, hampir-hampir kamu kehilangan petunjuk.” (H.R. Ahmad).
Hadirin yang berbahagia,
Penghargaan Al-Qur’an terhadap kedudukan ulama juga tercermin antara lain melalui penyebutan kata ‘alim beserta turunannya dalam sejumlah ayat Al-Qur’an yang mencapai sekitar 823 kali. Selain itu, terdapat pula sejumlah istilah lain yang maknanya berkaitan dengan aktivitas berpikir dan memahami, seperti al-‘aql, al-fikr, an-nazhr, al-basyar, at-tadabbur, al-‘ibār, dan adz-dzikr.
Tidak hanya Al-Qur’an dan hadis, para sarjana muslim baik klasik maupun kontemporer juga menempatkan ulama pada posisi yang terhormat, baik di sisi Allah maupun di mata manusia. Ibnu Katsir, misalnya, memaknai ulama sebagai orang yang benar-benar mengenal Allah (ma‘rifah) sehingga rasa takut kepada-Nya muncul secara sempurna.
Adapun Wahbah az-Zuhaili menjelaskan, secara naluriah, ulama ialah orang yang mampu menganalisis fenomena alam untuk memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat, serta memiliki rasa takut akan ancaman Allah apabila terjerumus dalam kemaksiatan. Sehingga ulama yang melakukan maksiat tidak dapat disebut ulama.
Sementara itu, menurut mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab, ulama bukan hanya mereka yang menguasai ilmu agama, tetapi juga mereka yang menguasai ilmu pengetahuan lain, termasuk ilmu alam atau sains, selama keilmuannya digunakan untuk kemaslahatan umat manusia.
Hadirin jemaah,
Sebagai pewaris risalah Nabi Muhammad saw, para ulama memiliki peran besar dalam penyebaran dan dakwah Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ulama nusantara menjadi tokoh sentral dalam seluruh proses tersebut. Ulama menggunakan berbagai cara dan strategi dakwah yang sesuai dengan konteks masyarakat.