Indonesia Targetkan Ekosistem Riset Berkelas Dunia untuk Dongkrak PDB
Upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi.
Editor:
Dodi Esvandi
Di Eropa, sektor swasta menyumbang 59 persen, di AS 63 persen, sementara Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang lebih dari 75 persen.
“Kita harus meyakinkan swasta bahwa investasi riset di universitas akan menghasilkan profit tinggi,” ujarnya.
Tantangan Pendidikan
Deputi Kemenko PMK, Ojat Darojat, menilai akar persoalan inovasi Indonesia terletak pada sistem pembelajaran yang masih didominasi rote learning atau hafalan.
Pola ini menghasilkan inert knowledge—pengetahuan yang tidak terkonversi menjadi solusi nyata.
Data Global Innovation Index 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 55 dari 139 negara, turun satu peringkat dari tahun sebelumnya.
Posisi ini masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina.
Executive Director YBDI, Yenny Bachtiar, menekankan pentingnya data akurat sebagai “alat navigasi” kebijakan riset.
Sementara Program Manager FES, Rina Julvianty, menegaskan bahwa investasi berkelanjutan pada pendidikan dan inovasi, ditopang kemitraan multipihak, adalah fondasi daya saing bangsa.
Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari BRIN, LPDP, UGM, hingga DAAD.
Diskusi menghasilkan kesepakatan mendorong peta jalan kolaboratif, mulai dari pendanaan riset efektif, program joint research dan joint degree, hingga insentif bagi diaspora dan talenta global.
Dengan kebijakan berbasis bukti dan kemitraan inklusif, Indonesia diharapkan mampu mengubah tantangan menjadi modal strategis, membangun ekosistem pendidikan dan riset yang berdaya saing global, serta memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Baca tanpa iklan