Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Greenpeace Minta Pemerintah Buat Sistem Pembangunan Nasional yang Bertumpu pada Perlindungan Hutan

Negara terlalu fokus pada pendapatan jangka pendek dan pertumbuhan ekonomi, mengabaikan perlindungan hutan serta ruang hidup masyarakat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Reza Deni
zoom-in Greenpeace Minta Pemerintah Buat Sistem Pembangunan Nasional yang Bertumpu pada Perlindungan Hutan
Tribunnews.com/Reza Deni
TAUBAT EKOLOGIS: Suasana diskusi yang digelar PKB Insight Hub Vol. 4 bertema Taubat Ekologis: Komitmen Kebijakan Ekologis Nasional yang digelar di Twin House Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (19/12/2025)/Tribunnews.com Reza Deni 

Ringkasan Berita:
  • Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, menilai arah kebijakan pembangunan nasional masih terjebak pada logika pertumbuhan ekonomi semu yang mengorbankan lingkungan
  • Ketergantungan pada industri ekstraktif dianggap merusak alam dan menciptakan kerugian jangka panjang yang berulang setiap kali bencana terjadi.
  • Tanpa kritik, dampak kerusakan akan terus berulang. Arie menekankan perlunya keberanian mengubah struktur pembangunan nasional.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Arah kebijakan pembangunan nasional masih terjebak pada logika pertumbuhan ekonomi semu yang mengorbankan lingkungan.

Ketergantungan negara pada industri ekstraktif dinilai tidak hanya merusak alam, tetapi juga menciptakan kerugian jangka panjang yang berulang setiap kali bencana terjadi.

Hal ini disampaikan Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, Arie Rompas dalam diskusi Insight Hub Vol. 4 bertema Taubat Ekologis: Komitmen Kebijakan Ekologis Nasional yang digelar di Twin House Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (19/12/2025). 

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), aktivis lingkungan termasuk Greenpeace, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil.

Arie mengatakan negara seharusnya mulai membangun sistem pembangunan nasional yang bertumpu pada perlindungan hutan dan ruang hidup masyarakat, bukan sekadar mengejar pendapatan jangka pendek.

“Memang tidak mudah, tetapi sebenarnya ada sistem yang bisa dibangun jika kita mau serius berbicara tentang bagaimana negara mengandalkan hutan,” ujar Arie.

Rekomendasi Untuk Anda

Bhutan menjadi contoh

Dia mencontohkan Bhutan sebagai negara yang mampu menjaga hampir 60 persen wilayah hutannya sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalamnya. 

Masyarakat Bhutan di sana tidak membangun kesejahteraan dengan mengakumulasi modal, melainkan dengan mengelola ruang hidupnya secara berkelanjutan.

“Cara pandang seperti ini seharusnya ada dalam pikiran para politisi kita, bukan hanya soal kepentingan elektoral,” kata dia.

Arie menilai, selama ini persoalan kerusakan lingkungan kerap dibungkus dengan bahasa moral atau isu teknis semata, sehingga akar persoalan struktural tidak pernah disentuh. Karena itu, kritik keras terhadap kebijakan lingkungan dinilai mutlak diperlukan.

“Kalau kritik keras tidak dilakukan, kita akan terus mengalami hal yang sama. Dampaknya akan terus berulang dan selalu muncul di depan mata kita,” kata dia.

Pengalaman buruk

Dia juga membagikan pengalaman pribadinya saat tinggal di Kalimantan dan menjadi korban langsung bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Anak saya sampai harus diungsikan karena terdampak langsung. Itu semua akibat dari kerusakan lingkungan yang dipicu oleh kebijakan politik,” ungkap Arie.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas