Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Penanganan Bencana Sumatra, Profesor NTU: Prabowo Punya Lebih daripada Tongkat Nabi Musa

Profesor NTU menyebut, Presiden Prabowo Subianto sebenarnya punya lebih dari sekadar tongkat Nabi Musa untuk menangani banjir di Sumatra.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Penanganan Bencana Sumatra, Profesor NTU: Prabowo Punya Lebih daripada Tongkat Nabi Musa
Tangkap layar YouTube KompasTV
BANJIR SUMATRA - Ahli Sosiologi Bencana Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Profesor Sulkifar Amir menyebut, Presiden Prabowo Subianto sebenarnya punya lebih dari sekadar tongkat Nabi Musa untuk menangani banjir di Sumatra. 

"Saya kira untuk mengatakan bahwa bantaun luar itu tidak diterima, itu adalah sebuah kesalahan secara etika. Sesuatu yang tidak tepat secara moral dan sesuatu yang tidak rasional secara kebijakan," urainya.

Sulfikar menjelaskan, saat ini Sumatra masih berada dalam proses peristiwa bencana, sehingga kecepatan penanganan menjadi hal yang paling utama.

"Kita sekarang masih berada dalam proses peristiwa bencana belum masuk pasca ini dan dalam peristiwa bencana ini, kecapatan itu adalah hal yang sangat fundamental," ujarnya.

Akademisi asal Indonesia yang kini berkarier di Singapura itu memaparkan, dampak bencana ditentukan oleh dua faktor, yakni bahaya dan kerentanan.

Dalam bencana di Sumatra, faktor bahayanya yakni adanya Siklon Tropis Senyar, yang menjadi penyebab utama banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Faktor kedua, kerentanan. Di Sumatra, masyarakat mengalami kerentanan akibat deforestasi secara brutal selama lebih dari 20 tahun.

Deforestasi merupakan hilangnya tutupan hutan secara permanen karena alih fungsi lahan menjadi nonhutan, seperti untuk pertanian, perkebunan sawit, hingga pertambangan.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain masyarakarat Sumatra, kata Sulfikar kerentanan juga dialami oleh pemerintah, yakni dengan adanya efisiensi anggaran.

"Tapi sebenarnya pemerintah juga mengalami kerentanan, kita tahu BNBP itu mengalami pemotongan budget 43 persen tahun ini," urainya.

Sehingga, lanjut Sulfikar, kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk merespons bencana Sumatra secara cepat terhambat.

Baca juga: Bantuan 30 Ton Beras UEA untuk Korban Banjir Sumatera Dikembalikan, Tito: Itu dari NGO

Sementara, anggaran pemerintah daerah juga dipangkas oleh pemerintah pusat sekira 30-40 persen, kata Sulfikar.

"Jadi kemampuannya untuk membantu menolong dan kemudian melindungi warganya juga berkurang," ungkap dia.

"Nah kerentanan-kerentanan inilah yang membuat dampak yang kita lihat di sana sangat masif sifatnya," sambungnya.

Oleh karena itu, menurut Sulfikar, bantuan dari manapun akan sangat membantu pemulihan wilayah terdampak.

"Dan karena itu, bantuan dari manapun, mau dari Amerika Serikat, mau dari Singapura, mau dari Timor Leste, itu sangat membantu," tandasnya.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas