Said Didu Semprot Yusril, Mahfud MD, Jimly, Sebut soal 'Kanebo' Pemerintah, hingga Putusan MK
Said Didu mengecam rencana penyusunan PP yang merevisi Perpol 10/2025 karena dinilai mengangkangi putusan MK, ia mendesak Perpol itu dicabut
Penulis:
Galuh Widya Wardani
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Said Didu mengkritik keras rencana pemerintah menyusun PP untuk merevisi Perpol Nomor 10 Tahun 2025 karena dinilai bertentangan dengan putusan MK dan melecehkan konstitusi.
- Ia mempertanyakan integritas Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, dan Jimly Asshiddiqie sebagai seorang cendekiawan
- Said Didu khawatir pengangkangan putusan MK demi kepentingan kekuasaan, termasuk preseden kasus Gibran, bisa membahayakan masa depan negara hukum Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM - Birokrat senior, Muhammad Said Didu, menyampaikan kritik ke pemerintah soal penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (PP) yang diklaim akan merevisi Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 10 Tahun 2025.
Menurutnya, membuat PP yang bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), itu sama saja melecehkan konstitusi.
Dirinya pun tak segan "menyemprot" tiga sosok yang paling terdepan dalam hal penyusunan RPP ini, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD dan Jimly Asshiddiqie.
Said Didu tegas menilai tiga sosok ini seorang cendekiawan yang bertugas hanya sebagai pembersih pemerintahan.
Ia menyayangkan ketiga orang tersebut dianggapnya justru memperumit dan mengangkangi keputusan MK.
Padahal ada jalan yang lebih sedehana, yakni cabut Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 10 Tahun 2025 tersebut.
"Negara ini dihancurkan oleh orang-orang cendekiawan-cendekiawan 'kanebo', pembersih kaca mobil dari kotoran."
"Saya sakit hati kalau mereka ini yang betul-betul dipercaya (rakyat), (kini) tidak lagi memiliki karakter untuk berdiri tegak. Harusnya cabut perpol."
"Pak Mahfud awalnya (orangnya) oke lho, kalau Yusril dari dulu saya tau (karakternya), kalau Jimly itu saya juga taulah, (dia) mau main diatas selancar saja tapi mau dianggap ilmuwan. Ilmuwan itu tidak menaiki selancar. Kalau nggak kuat jadi ilmuwan ya berenti saja jadi ilmuwan," tegas Said Didu dalam obrolannya bersama jurnalis senior, Edy Mulyadi, tayang di YouTube BANG EDY CHANNEL, Senin (22/12/2025).
Said Didu mengingatkan seorang cendekiawan seharusnya memiliki integritas yang kuat.
"Itulah pentingnya seorang pemimpin, orang pintar punya integritas. Percuma pintar tapi hatinya tidak punya integritas," lanjut Said Didu.
Baca juga: PP Memberikan Kepastian Hukum Terhadap Perpol No 10/2025
Kepada Edy, Said Didu mengaku merasa khawatir negara bubar karena para petingginya mengangkangi putusan MK.
"Saya lagi takut sekali, negara ini dibubarkan oleh empat orang, oleh Prabowo, Mahfud MD, Jimly dan Yusril, hanya untuk kepentingan polisi."
"Saya terbayang para proklamator yang mengangkat senjata, yang meninggal. Bapak saya perintis kemerdekaan, saya teringat mendirikan negara ini tidak gampang. Tapi empat orang ini merasa paling jago karena berilmu, seakan-akan hebat, tapi di atas ilmunya ada kekuasaan yang bisa membubarkan negara," ujar Said Didu.
Pernyataan ini disampaikan Said Didu karena dirinya melihat peristiwa kemarin soal keputusan MK dikangkangi demi Gibran Rakabuming Raka, maju sebagai calon Wakil Presiden di Pemilu 2024.