Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Berakar dari Tradisi Romawi
Sejarah perayaan Tahun Baru Masehi berakar dari perkembangan Kalender Romawi. Selain Romawi, ada Babilonia dan Persia yang juga merayakan tahun baru.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Dalam Kalender Julian, Kaisar Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun untuk menghormati Dewa Janius, Dewa yang digambarkan bermuka dua.
Wajah Janus digambarkan menatap ke masa lalu dan satu wajah lainnya menatap ke masa depan, menjadi simbol yang sempurna untuk pergantian tahun.
Perayaan tersebut dilestarikan, lalu menyebar ke Eropa pada awal abad Masehi.
Seiring berkembangnya Kristen, seorang pendeta bernama Donisius pada abad 6 Masehi, memanfaatkan penemuan kalender Julius Caesar untuk menghitung tahun berdasarkan kelahiran Yesus Kristus.
Sistem penghitungan tahun yang disusun oleh Donisius disebut Anno Domini, yang menghitung Tahun 1 Masehi setelah kelahiran Yesus.
Kalender Masehi menggunakan sistem penghitungan matahari dengan 365 hari dalam setahun dan satu tahun kabisat setiap empat tahun (366 hari).
Dalam laman Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam UII, dijelaskan bahwa istilah Masehi erat kaitannya dengan nama lain Isa Al-Masih yang disebut Yesus oleh keyakinan Kristen sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Saat ini, kalender modern yang digunakan secara global adalah Kalender Gregorian, yang berasal dari Kalender Julian yang disempurnakan, namun penomorannya tetap menggunakan sistem Anno Domini.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan