Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Berakar dari Tradisi Romawi
Sejarah perayaan Tahun Baru Masehi berakar dari perkembangan Kalender Romawi. Selain Romawi, ada Babilonia dan Persia yang juga merayakan tahun baru.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Perayaan pergantian tahun baru dilakukan oleh bangsa kuno seperti Babilonia dan Persia yang lekat dengan tradisi pertanian dan keagamaan.
- Sementara itu, bangsa Romawi melakukan perayaan tahun baru untuk menghormati Dewa Janius.
- Perayaan pergantian tahun baru juga tidak lepas dari perkembangan sistem penanggalan kalender.
TRIBUNNEWS.COM - Perayaan pergantian tahun baru masehi dirayakan oleh banyak orang di berbagai negara.
Sejarah perayaan Tahun Baru Masehi berakar dari tradisi Persia, tradisi orang Romawi, serta perkembangan penanggalan kalender sejak abad 4 Masehi.
Tradisi Babilonia dan Persia
Perayaan tahun baru yang tertua dan tercatat dalam sejarah dilakukan oleh bangsa Babilonia dan bukan pada bulan Januari.
Orang-orang di wilayah Babilonia kuno (sekarang Irak dan sekitarnya) merayakan tahun baru pada bulan pertama musim semi pada akhir Maret, dengan mengadakan festival Akitu.
Festival Akitu berlangsung selama 11 hari dan berkaitan erat dengan siklus pertanian dan pelantikan raja baru.
Selain Babilonia, bangsa Persia juga memiliki perayaan tahun baru yang mirip dengan festival Akitu, yaitu Nowruz.
Nowruz adalah perayaan Tahun Baru Persia yang sangat kuno, berusia lebih dari 3.000 tahun, dan berasal dari tradisi Zoroastrianisme, yaitu agama yang dulu dominan di Persia (sekarang Iran dan sekitarnya).
Nowruz berarti “hari baru” dan dirayakan pada ekuinoks musim semi (sekitar 20–21 Maret), yang menandai awal musim semi serta awal tahun baru dalam kalender Persia, dikutip dari History.
Perayaan ini berakar pada keyakinan bahwa musim semi adalah simbol kemenangan kehidupan, pertumbuhan, dan pembaruan setelah musim dingin.
Baca juga: Apakah Islam Boleh Merayakan Tahun Baru Masehi? MUI dan Kemenag Beri Jawaban
Perayaan Nowruz melibatkan tradisi keluarga, kegiatan pembersihan rumah (spring cleaning), menyajikan makanan khas, serta memajang simbol-simbol pertumbuhan dan harapan.
Tradisi Romawi dan Perkembangan Kalender
Pergantian tahun baru juga dirayakan dalam tradisi Romawi dan tidak lepas dari perkembangan sistem penanggalan kalender.
Awalnya, kalender Romawi hanya memiliki 10 bulan (304 hari) dan dimulai pada bulan Martius (Maret).
Raja kedua Roma, Numa Pompilius, kemudian menambahkan Januarius (Januari) dan Februarius (Februari).
Seiring berjalannya waktu, Kalender Romawi mengalami reformasi besar menjadi Kalender Julian yang diperkenalkan oleh kaisar Romawi saat itu, Julius Caesar pada tahun 45 SM.
Baca tanpa iklan